Anggap Penuh dengan Kejanggalan

BANTUL – Kisruh dalam seleksi pamong kembali terjadi. Kali ini di Desa Seloharjo, Pundong. Hasil seleksi dukuh Nambangan yang diumumkan Sabtu (28/10) lalu dianggap penuh dengan kejanggalan. Karena itu, puluhan warga Pedukuhan Nambangan menggelar unjuk rasa di halaman Balai Desa Seloharjo, kemarin (2/11)

Koordinator Aksi Yatimun menekankan, letak kejanggalan seleksi terletak pada ujian praktik. Pelaksanaannya tidak sesuai dengan ketentuan yang telah disosialisasikan. Pihak ketiga yang ditunjuk menangani ujian tiba-tiba menambah materi lain.

“Padahal yang disepakati hanya kemampuan pidato dan komputer,” jelas Yatimun di sela aksi.

Ada empat tes yang harus dilalui para peserta seleksi. Yaitu, tes tertulis berbobot 25 persen, praktik 35 persen, psikologi 20 persen, dan wawancara 20 persen. Nah, ujian praktik sendiri meliputi dua komponen. Yakni, kemampuan pidato dan komputer. Bobot kemampuan pidato 25 persen dan komputer 10 persen. Dengan begitu, total ujian praktik 35 persen.

Yatiman menyebut, ada empat peserta yang mengikuti seleksi calon dukuh ini. Problemnya adalah salah satu peserta yang dianggap memiliki kemampuan pidato terbaik malah mengantongi nilai terendah.

“Kami minta pemerintah desa untuk mempertemukan dengan pihak ketiga,” pintanya.

Lurah Desa Seloharjo Marhadi menganggap tuntutan warga ini wajar. Sebab, warga memantau seluruh rangkaian tes. Termasuk di antaranya tes praktik. Bahkan, ujian pidato sendiri digelar di balai desa. “Desa netral,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Tim Sembilan (panitia seleksi) Arif Yulianto berdalih tidak mengetahui adanya ujian tambahan dalam tes praktik. Toh, kesepakatan yang tertuang antara panitia dan pihak ketiga sudah rigid. Dalam kesepakatan itu juga tertuang hanya ada dua ujian dalam tes praktik. “Dan bobot pidato lebih tinggi,” ujarnya.
Atas dasar itu, Arif berjanji bakal memfasilitasi pertemuan antara warga dan pihak ketiga. (zam/ila/ong)