Andalkan Keraton, Keprajan, Kampung, dan Kampus

JOGJA – Status warisan budaya dunia versi lembaga kebudayaan dunia UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), yang sedang diajukan Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ untuk kawasan sumbu filosofis Jogja akan banyak memberi manfaat. Salah satu dampaknya pada tingkat kunjungan wisata.

“Pengalaman di berbagai wilayah dunia, tingkat kunjungan wisata setelah menjadi warisan budaya dunia naik hingga 60 persen,” ujar Dosen Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM Daud Aris Tanudirjo dalam sosialisasi Jogja Menuju Warisan Budaya Dunia di Sasono Hinggil Dwi Abad Alun-alun Selatan Jogja, Rabu malam (1/11).

Menurut dia, status warisan budaya dunia untuk sumbu filosofis Jogja juga merupakan sumbangan Jogja untuk dunia. Daud menjelaskan, dunia pariwisata saat ini tidak lagi hanya menjual komoditas, tapi pengalaman. Menurutnya, pengalaman tersebut yang bisa didapat dari memahami makna yang terkandung dari bangunan, vegetasi, nama jalan, kampung dan lainnya terkait sumbu filosofis Jogja.

“Untuk memahami Tugu, Keraton hingga Panggung Krapyak butuh seharian penuh dan itu bisa menambah lama tinggal wisatawan,” tuturnya.

Tapi Daud mengingatkan, konsep yang bisa menyejahterakan masyarakat di kawasan sumbu filosofis Jogja itu juga harus didukung oleh warganya sendiri. Peran tersebut, jelas dia, tidak hanya sekadar mempertahankan bangunan yang sudah ada, tapi juga memahami makna filosofisnya. “Kalau mau menyejahterakan harus memperhatikan sumbernya,” pesannya.

Sementara itu, Kepala Disbud DIJ Umar Priyono mengatakan, awal pembangunan Kota Jogja yang dilakukan oleh Hamengku Buwono (HB) I sudah sangat detail memperhatikan filosofi di dalamnya. Hal itu yang akan dikembalikan dengan menjadikan Jogja sebagai Kota Warisan Budaya Dunia.

“Banyak keuntungan yang akan didapatkan, salah satunya kunjungan wisatawan,” jelasnya

Untuk itu, Umar mengaku, di DIJ sejak beberapa tahun terakhir mulai menggalakkan kerja sama 4K, yaitu Keraton, keprajan (pemerintah), kampung, dan kampus dalam sosialisasi terkait budaya. (*/pra/ila/ong)