SLEMAN – Sejak lama upacara adat saparan bekakak menjadi tradisi warga Ambarketawang, Gamping, Sleman. Seiring berjalannya waktu, ritual ini tak hanya berhenti sebagai ritual budaya. Tapi telah menjelma menjadi potensi pariwisata.

Terbukti dalam setiap penyelenggaraan setiap Jumat pertama bulan Sapar (penanggalan Jawa, Red) selalu dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah. Puncak acara tradisi ini ditandai dengan arak-arakan sepasang bekakak dari Lapangan Ambarketawarng menuju Gunung Gamping. Di tempat ini boneka yang terbuat dari tepung beras disembelih.

“Tradisi ini tetap kami pertahankan karena nilai-nilai di dalamnya telah merasuk dalam setiap jiwa masyarakat,” ujar Kepala Desa Ambarketawang Sumaryanto kemarin (3/11).

Kirab dan penyembelihan bekakak tak henti-hentinya menjadi objek foto setiap pengunjung. Pun demikian arak-arakan yang dimeriahkan dengan usungan ogoh-ogoh. Meski acara dikemas lebih modern, unsur sakral setiap detail ritualnya tak ditinggalkan.

Dengan begitu nilai sejarah bekakak tak berkurang sedikit pun. Keterlibatan peserta upacara adat ini juga semakin luas. Tak sedikit warga dari luar Ambarketawang turut menyemarakkan acara. Tak kurang 36 kelompok mengikuti kirab. Ada pecinta seni, bregada prajurit, hingga komunitas kesenian tradisional.

Adapun sepasang bekakak merupakan simbol pengantin bernama Tirto Dono Jati dan Tirto Nyi Mayangsari. Keduanya melambangkan pasangan Ki Wirosuto dan istrinya. Ki Wirosuto adalah abdi dalem Raja Keraton Jogjakarta Sri Sultan Hamengku Buwono I ini dipercaya sebagai sesepuh pembabat alas Desa Ambarketawang. Selama pembangunan keraton Ki Wirosuto dan istrinya memilih tinggal di dalam gua di Gunung Gamping. Sejak itu sosok Ki Wirosuto dinyatakan hilang.

Jasadnya tak pernah ditemukan. Demikian pula dengan istrinya. Kendati demikian, warga setempat memercayai jika arwah Ki Wirosuto tetap ada di Gunung Gamping. Hal itulah yang mendasari warga setempat menggelar upacara adat secara turun-temurun. Upacara tradisional itu semula untuk menghormati kesetiaan Ki Wirosuto kepada raja yang bertakhta saat itu.

Seiring perkembangan zaman, upacara tradisi dimaknakan lain. “Selain bentuk pelestarian budaya, tradisi ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas karunia-Nya. Juga mohon keselamatan kepada Sang Pencipta,” jelas Sumaryanto.

Pemecahan kendhi berisi Tirto Dono Jati dan pelepasan sepasang burung merpati mengawali prosesi kirab. Tirto Dono Jati diambil dari Umbul Tlogosari, Gunung Gamping pada Kamis (2/11) malam, sebelum puncak acara.

Kerumunan warga tampak di sepanjang jalan dari Lapangan Ambarketawang menuju Gunung Gamping sejauh sekitar enam kilometer. Demikian pula wisatawan nusantara maupun mancanegara yang berseliweran di sekitar lokasi kirab.

“Acara ini ramai di media sosial. Kebetulan saya pas ada di Jogjakarta, sempatkan diri nonton,” kata Wicaksono Haryo,30, pelancong asal Mojokerto, Jawa Timur. “Acara ini pas dijadikan objek fotografi,” sambungnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Aji Wulantara menilai, komitmen warga Ambarketawang melestarikan ritual bekakak semakin tinggi. Itu terlihat dari kemasan acara. Menurutnya kian matang dan menarik. “Bekakak termasuk upacara adat yang tetap eksis di Sleman,” katanya. (dwi/yog/ong)