Ciptakan Dalang Kondang dari Generasi Milenium

JOGJA—Matahari masih berselimut awan mendung ketika seribu anak dari berbagai penjuru Jogjakarta merapatkan kaki di sepanjang Jalan Margo Utomo kemarin (5/11). Mereka berdandan rapi dengan busana adat Jawa. Siswa laki-laki mengenakan surjan lengkap dengan belangkonnya. Sedangkan yang perempuan memakai kebaya. Rasa kantuk yang menyelimuti sebagian dari mereka seketika sirna saat acara Gelar Sanding Dalang 1.000 Bocah dimulai.

Putri Ayu Kurniawati, 11, misalnya. Siswi kelas 4 SD Grogol, Karangmojo, Wonosari, Gunungkidul ini mengaku senang bisa ambil bagian untuk mendalang bersama. Ini menjadi pengalaman pertamanya mendalang bersama teman-teman seusia dari berbagai sekolah.

“Saya memang suka wayang. Sejak umur lima tahun suka diajak nonton (pentas wayang, Red) bapak,” ujar Putri yang telah bersiap sejak Subuh.

Penyuka tokoh Gareng ini ikut latihan dalang selama tiga hari sebelum perhelatan acara ini. Dari situ dirinya semakin tertarik dan ingin belajar menjadi dalang. Kendati diakuinya menjadi dalang tidaklah mudah.

“Cara memainkan wayang nggak gampang. Harus padu dengan musiknya,” kata Putri.

Bersama dalang cilik lainnya, Putri duduk lesehan beralaskan anyaman daun kelapa. Mereka cukup sabar menunggu peserta lain yang sedikit terlambat. Sebagai pembuka acara, Lagu Indonesia Raya mereka nyanyikan bersama.

Gelar Sanding Dalang 1.000 Bocah digelar sebagai rangkaian program Jogja International Heritage Festival yang diinisiasi Dinas Kebudayaan DIJ. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya menyelamatkan dan melestarikan warisan budaya Indonesia. Khususnya tradisi yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X sangat apresiatif dengan kesadaran masyarakat yang mau memahami arti budaya lokal dan melestarikannya. Gubernur berharap, kelak muncul dalang kondang dari seribu anak yang andil di acara ini.
“Ini bukan bicara pembinaan, tetapi sanding. Karena sanding itu memiliki ruang untuk berdialog, berkreasi, berinovasi,” tuturnya.

Dikatakan, pendekatan budaya kepada anak-anak yang lahir di zaman milenium memang harus berbeda. “Jadi lebih tepat menggunakan kalimat sanding daripada pembinaan,” jelas gubernur.

Melalui kegiatan ini HB X berharap bisa membuka ruang kreativitas baru. Sehingga muncul inovasi yang bisa mendekatkan generasi milenial agar tertarik untuk ikut melestarikan budaya lokal.

Diakui gubernur, upaya tersebut membutuhkan konsistensi dari pemerintah provinsi (pemprov) maupun pemerintah kabupaten/kota. Serta peran para orang tua yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk eksplorasi diri dengan bakat dan pembelajaran budaya lokal.

Misalnya menyekolahkan anak-anak di sekolah khusus pedalangan. Dengan begitu anak-anak bisa belajar cengkok, nembang, dan mengenal wayang.

“Siapa tahu pada masanya kelak mereka mampu melahirkan kreativitas kontemporer dan menciptakan wayang kontemporer juga,” ucapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono mengatakan, Gelar Sanding Dalang 1.000 Bocah menjadi bagian penting guna menjawab kekhawatiran atas upaya pelestarian wayang bagi generasi muda. Makanya, kegiatan ini diharapakan bisa menjadi stimulan untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Agar anak-anak lebih termotivasi untuk mencintai kebudayaan.

“Ada nilai penting pada wayang. Sebagairefleksi watak manusia hingga media pembangunan karakter. Juga mengajarkan nilai-nilai luhur,” tutur Umar. (dya/yog/ong)