Sampai Jual Rumah, Pemain Ramai-Ramai Lelang Jersey

Sepak bola bukan hanya permainan dan hiburan. Sepak bola juga persaudaraan, kerja sama, kemanusiaan, dan solidaritas. Ungkapan itu diwujudkam pemain dan fans PSIM Jogja.
Rizal SN, Jogja
Hari-hari ini linimasa Twitter dan Instagram pemain PSIM penuh dengan gambar jersey. Bukan, mereka bukan mau membuka usaha. Atau sedang memromosikan jersey Laskar Mataram musim depan. Namun para pemain melelang seragam main di Liga 2 musim lalu untuk membantu Tito Rama.

Iya, kiper PSIM Jogja itu baru saja selesai operasi lutut. Konon biayanya mencapai lebih dari Rp 60 juta. Untuk keluar dari rumah sakit tempatnya dioperasi, keluarga harus menjual rumah di daerah Bantul untuk biaya operasi.

Berbicara biaya, masih belum termasuk untuk terapi selama enam sampai sembilan bulan yang bisa mencapai Rp 10 juta. Jelas bukan nominal yang sedikit untuk ditanggung sendiri. Berangkat dari hal itulah, banyak pihak yang bersimpati.

“Bentuk solidaritas sebagian besar pemain melelang jersey. Kami hanya bisa melakukan hal kecil, support agar Tito tetap semangat. Hasil lelang untuk biaya operasi dan terapi. Kebanyakan berupa jersey,” ungkap kapten PSIM Jogja Ahmad Taufik kepada Radar Jogja, kemarin.

Pemain selain Taufik ada Dimas Priambodo, Krisna Adi, Edo Pratama, Engkus Kuswaha, Fachri Muslim, Riskal Susanto, Pratama Gilang, Ayub Antoh, Raymond Tauntu, Supriyadi, Ivan Febrianto, Dicky Prayoga, Hendika Arga, Pratama Gilang, dan termasuk Rangga Muslim yang saat ini di Persebaya Surabaya.”Semuanya mengunggah di medsos. Ada yang sudah selesai ada yang masih berjalan, semua hasil lelang kami serahkan Tito,” imbuh Taufik.

Nilainya bervariasi. Beberapa membuka mulai angka Rp 500 ribu. Hasil lelang juga beragam tergantung yang menawar tertinggi. Pemain tidak mematok nominal tertentu. Pihak yang menawar juga dibebaskan. “Ada dari Jogja dan luar kota. Semua boleh menawar dan kami tidak membatasi,” paparnya.

Edo Pratama menambahkan, hubungan pemain di PSIM selama ini sudah terjalin baik. Pemain juga selalu berbaur satu sama lain. Gerakan melelang jersey yang dilakukan semuanya spontan untuk membantu teman.”Tito teman seperjuangan harus dibantu jika mendapat musibah. Suporter juga ada, pemain hampir semua. Semua solidaritas untuk Tito,” imbuhnya.

Tak hanya jersey, pemain juga menggalang bantuan dengan menjual kaus bernada solidaritas dan kemanusiaan seharga Rp 80 ribu. Keuntungan sebesar Rp 35 ribu per helai akan disumbangkan kepada Tito. Suporter juga menjual poster dan beberapa kaus PSIM edisi lawas seperti yang dilakukan kelompok suporter The Maident.

DPP Brajamusti, kelompok suporter PSIM lainnya juga mengadakan pertemuan besar, Senin malam (13/11). Salah satu hasilnya menuntut manajemen PSIM menyelesaikan biaya operasi Tito. “Manajemen harusnya terbuka jika mempunyai masalah agar bisa dicarikan solusi sedari awal. Tidak saat kondisi membesar seperti sekarang,” ungkap Presiden Brajamusti Rahmad Kurniawan.

Mamex sapaanya mengatakan, dia berharap PSIM bisa menjadi lebih baik. Permasalahan dan kesulitan yang terjadi bisa diselesaikan dan tidak terjadi di kemudian hari.

Sementara itu, kondisi Tito sendiri terus membaik. Meskipun belum bisa jalan, dia akan mulai menjalani terapi seperti yang disarankan dokter. Di sisi lain, melihat besarnya solidaritas yang terjalin, dia mengaku sangat terharu dan tersentuh.

“Tidak menyangka kalau sampai sebesar ini solidaritas temen pemain dan suporter. Bahkan saya dengar sampai The Jak dan beberapa pemain Persija juga ikut. Ini keluarga yang luar biasa,” ungkapnya.

Dengan kondisi yang telah terjadi, menurutnya bisa menjadi pembelajaran banyak pihak. Tidak hanya pemain namun juga manajemen. Untuk pemain bisa mencermati lagi mengenai kontrak walaupun tentu tidak berharap cedera.

“Asuransi kesehatan dari klub itu penting. Pembelajaran juga untuk klub lain semoga manajemen juga memperhatikan pemainnya. Sebab kasus seperti saya juga kabarnya menimpa pemain PSIR. Tapi saya masih sedikit beruntung karena suport yang luar biasa,” bebernya.

Dosen Ilmu Komunikasi UMY Fajar Junaedi yang juga pemerhati sepak bola menyebut, apa yang dialami oleh Tito Rama menunjukan tata kelola sepak bola, baik di tingkat klub, operator maupun federasi yang belum profesional.

Menurutnya, seharusnya dalam tata kelolanya, klub mengikutkan pemain dalam asuransi agar jika terjadi cedera pada pemain, pemain tersebut akan terlindungi. Demikian pula operator, dalam hal ini adalah PT Liga Indonesia Baru juga harus secara ketat mengawasi klub dalam rangka melindungi hak-hak pemain.

Menurutnya, tertundanya gaji pemain dan mangkirnya klub atas tanggung jawab cidera pemain menunjukan operator kompetisi tidak mengawasi klub dengan baik.”Demikian juga PSSI harus menjamin kompetisi yang dijalankan operator berlangsung dengan profesional,” paparnya. (din/ong)