SLEMAN – Ketimpangan pendidikan dalam berbagai bentuk sangat berpengaruh pada buruknya sosial ekonomi. Kondisi semacam itu tidak menguntungkan bagi bangsa manapun.

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial UNY Prof Dr Zamroni, PhD mengungkapkan, ketimpangan pendidikan mesti ditangani sejak dini. Sekolah, terutama kepala sekolah dan guru memiliki peran penting untuk mengurangi ketimpangan diantara siswa dan berbagai kelompok masyarakat sekolah.

“Demikian pula para pembuat kebijakan memiliki peran tidak kalah pentingnya dalam mengurangi ketimpangan pendidikan,” ujarnya dalam pidato pelepasan guru besar purnatugas di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY, Senin (20/11/2017).

Dia menjelaskan, kepala sekolah mestinya mengembangkan kebijakan yang menekankan pada pengembangan pendidikan multikultural untuk menciptakan sekolah ramah sosial.

Menurutnya, kebijakan sekolah mesti dipastikan tidak pernah memarjinalkan siapa saja, khususnya siswa yang memiliki latar belakang ketidakkeberuntungan. Sekolah ramah sosial adalah sekolah yang menjadi tempat nyaman bagi siapa saja warga sekolah.

Kenyamanan ini akan mendorong dan menjadi basis semua siswa bisa belajar dengan baik sehingga masing-masing siswa memiliki potensi untuk sukses.

“Hal ini pula akan menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi para siswa. Semua warga sekolah benar-benar menikmati hidup dan kehidupan di sekolah,” papar Zamroni.

Dalam pidato pelepasan bertajuk “Pendidikan Multikultural Sebagai Upaya Untuk Mengurangi Ketimpangan Prestasi Pendidikan” tersebut Zamroni menyoroti ketimpangan prestasi yang selama ini terjadi dihadapi dengan cara yang salah. Yakni dengan remedial atau perbaikan dengan tambahan jam belajar khusus.

“Kebijakan tersebut tidak akan bisa menyelesaikan masalah rendahnya prestasi siswa miskin, karena yang dibutuhkan adalah kebijakan yang bersifat intervensi langsung guna menciptakan sekolah yang nyaman bagi semua siswa. Khususnya mereka para siswa yang datang dari keluarga dengan status miskin,” ungkapnya.

Salah satu kebijakan adalah pengembangan pendidikan multikultural yaitu pendidikan yang diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

“Berdasarkan prinsip ini pendidikan menjamin kesetaraan diantara semua siswa dalam mendapatkan pelayanan pendidikan, yang memberikan fondasi bagi setiap siswa untuk sukses mewujudkan potensi diri yang dimiliki secara optimal” ungkapnya. (ita/ila)