PURWOREJO-Maksud hati ingin mendapatkan uang banyak dalam tempo singkat, Sukahar, 62 warga Desa Pasuruan Kidul RT 1 RW 2 Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, malah kehilangan uang ratusan juta rupiah.

Dia menjadi korban sindikat penipu penggandaan uang. Dua dari tiga pelaku berhasil digulung anggota Sat Reskrim Polres Purworejo dan sementara satu orang lagi masih buron.Ketiga pelaku itu masing-masing Warno
alias Dedi Putra, 55 warga Desa Sejeruk RT 3 RW 4 Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, Mohamad Rahadian, domisili di Kampung Grenjeng, Kelurahan Kalitanjung, Kecamatan Cirebon Barat Kabupaten Cirebon. Sementara satu yang masih buron adalah Maesaroh,33, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kampung Pancasan RT 2 RW 7 Kelurahan Pasirjaya, Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor.

Yang menjadi pertanyaan, kok tidak ada yang dari Purworejo.”Memang mereka semua berasal dari luar kota. Tapi melakukan aksinya di Purworejo. Dan korban yang merasa menjadi korban melaporkan ke Polres Purworejo,” kata Kapolres AKBP Teguh Tri Prasetya saat digelar perkara kasus tersebut, kemarin (21/11).

Menurut Teguh, Sukahar setidaknya telah dua kali melakukan penggandaan uang dengan pelaku. Sebelumnya nilainya masih kecil yakni Rp 5 juta dan dilakukan di Kudus. Ingin mendapatkan hasil lebih besar, dia menuruti perkataan Warno untuk melakukannya di luar Kota Kudus dengan nilai uang yang digandakan mencapai Rp 250 juta.

Saat melakukan aksinya, ketiga pelaku mengajak korban masuk ke dalam sebuah kamar di Hotel Bagelen. Di sana mereka melakukan tirakat ritual pada 12 Oktober sekitar pukul 07.30. Beberapa saat berada di dalam kamar dengan aneka alat yang digunakan sebagai pengganda uang, selanjutnya korban diminta keluar terlebih dahulu untuk membereskan ritual.”Selesai ritual, korban dipanggil lagi ke dalam dan diserahkan uang yang ada. Uang yang telah ditata sedemikian rupa diserahkan kepada korban dan diminta untuk disetorkan ke bank,” tambahnya.

Sukahar yang puas dengan kerja para pelaku senang dan langsung menuju ke salah satu bank yang ada. Namun betapa kagetnya, setelah hendak disetorkan ternyata uang yang ada itu telah berubah menjadi potongan-potongan kertas berwarna merah muda. Setiap ikatpotongan bertas terdiri dari 1 lembar uang pecahan Rp 100 ribu. “Tampaknya pelaku memanfaatkan waktu menyuruh korban keluar kamar itu untuk menata kertas yang ditutup uang asli itu,” imbuh kapolres.

Untuk meyakinkan korbannya, Warno menggunakan jenglot palsu dari plastik sebanyak dua buah. Adapun dari tanganpelaku, petugas berhasil menyita barang bukti yang digunakan sebagai bahan pemeriksaan.Warno mengatakan tindakan nekatnya itukarena pernah menjadi korban perbuatan yang sama. Hanya dia tidak ingat kapan hal itu terjadi. “Saya terpaksa melakukan ini karena pernah jadi korban. Saya belum lama melakukan aksi ini,” kata Warno.

Atas perbuatannya itu, Warno bersama Mohammad Rahadian diancam hukuman empat tahun penjara karena melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP. (udi/din)