JOGJA – Makanan tradisional kalah dengan junk food atau makanan cepat saji yang kian menjamur. Berangkat dari situ, Indonesia Chef Association (ICA) atau Asosiasi Chef Indonesia berkomitmen mengangkat dan melestarikan makanan tradisional.

Ketua ICA BPD DIJ Panca Nugraha mengatakan, salah satu tugas chef adalah nguri-uri makanan tradisional, selain mengkreasi dan menciptakan menu.

“Makanan tradisional sebenarnga banyak sekali, tapi memang harus ada pendataan lagi. Ada beberapa jenis makanan tradisional yang di pasaran sudah jarang ditemui,” ujarnya di Kompleks Kepatihan, Kamis (23/11/2017).

Chef yang sehari-hari bertugas di Grand Tjokro ini mengutarakan, makanan tradisional sudah semakin tergantikan oleh makanan cepat saji. Padahal, dari nilai gizi diyakini makanan tradisional jauh lebih kaya gizi. Namun, tak dipungkiri, masyarakat lebih memilih makanan modern karena penyajiannya yang cepat.

Selain karena tergempur makanan modern, makanan tradisional semakin sulit dicari karena bahan bakunya yang juga semakin susah dicari. Misalnya gudeg. Nangka yang menjadi bahan baku gudeg, beberapa pembuat harus mendatangkannya dari luar Jogja. Sebab, nangka semakin sulit didapat di DIJ karena berebut dengan produsen furniture yang memanfaatkan kayu nangka untuk produksi.

“Ya dari bahan dasarnya saja semakin sulit, harus berebut. Inilah mengapa kami bersama-sama harus nguri-uri,” ujarnya.

Wakil ICA BPD DIJ Anton Yanuar menambahkan, saat ini para chef juga berkomitmen untuk menghadirkan makanan tradisional sebagai salah satu cara mengenalkan kepada para tamu hotel. Dengan mengolaborasikan menu modern dan tradisional.

Langkah selanjutnya, juga akan membuat program pembinaan mengenai standardisasi higienis dan sanitasi bagi pelaku usaha kecil dan pembuat makanan tradisional. Apalagi mereka yang nantinya akan ambil bagian ketika bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) jadi.

“Karena yang akan jadi perhatian wisatawan mancanegara adalah dua hal itu, kebersihan dan kesehatannya. Nah, makanan tradisional ini juga harus memenuhi itu,” ujarnya. (dya/ila)