SLEMAN – Sejak pertandingan terakhir melawan Persis Solo di Liga 2, manajemen PSS melakukan gerakan silenzo stampa atau sikap tutup mulut. Sementara di luar sana kabar bursa transfer pemain mulai menghangat.

Sebagai tim yang banyak diperkuat pemain potensial, penggawa Super Elja tentu rawan bidikan tim lain. Kondisi tersebut tentu membuat suporter gerah. Terlebih tim juga belum melakukan persiapan untuk musim depan. Seperti menentukan manajer tim untuk menggantikan Arif Juli Wibowo yang mundur setelah laga menjamu Persis Solo lalu. Persiapan tim sejak dini bisa jadi akan menjadi penentu di posisi mana Busari dkk di akhir musim 2018 mendatang.

Sebab selain Liga 2, PSSI mengeluarkan wacana menghidupkan lagi Piala Indonesia. Artinya dalam semusim tim akan bermain di dua kompetisi. Itu belum termasuk turnamen pra-musim macam Piala Presiden yang besar kemungkinan kembali digelar awal tahun. Tak pelak, kekuatan tim juga perlu kuat dan memiliki kedalaman untuk mengarungi kompetisi itu.

Salah satu perwakilan kelompok suporter Brigata Curva Sud (BCS) Jaguar Tominangi mengatakan merebaknya isu akan pindahnya sejumlah pemain PSS ini semestinya segera disikapi oleh pihak manajemen. Terlebih suporter juga mendorong klub melakukan perombakan di internal manajemen. Sehingga kinerja di musim depan lebih maksimal. Sebab suporter selalu berharap PSS bisa promosi ke Liga 1.”Manajemen sangat lamban (menyikapi isu hengkangnya pemain). Semestinya segera perbaiki agar masalah ini tidak berlarut-larut. Kalautidak segera disikapi, bisa saja banyak pemain yang lepas,” ungkap pria yang juga kerap disapa Jenggo itu, kemarin (24/11/2017).

Suporter juga masih mendorong direksi PT PSS mewujudkan keinginan mereka menunjuk eks manajer Sriwijaya FC Baryadi sebagai manajer PSS musim depan. Di sisi lain, CEO PT PSS Soekeno sempat menyebut Baryadi lebih pas di posisi direksi klub. “Kami belum dan tidak ada opsi lain selain Pak Baryadi di posisi itu (manajer, Red),” tegas Jenggo. (riz/din)