SLEMAN- Bupati Sleman Sri Purnomo (SP) menginstruksikan relokasi terhadap 10 warga Sengir, Prambanan. Pertimbangannya kawasan hunian mereka sudah tidak layak huni dan rawan bahaya longsor. Namun, tahapan relokasi hunian warga ini masih dalam kajian. Itu termasuk lokasi pemindahannya.

SP menuturkan kawasan Sengir sejatinya tergolong rawan. Setidaknya pada medio 2006 silam, tepatnya saat bersamaan dengan gempa Bantul, kawasan ini terdampak parah. Bahkan hampir seluruh warga desa tersebut direlokasi ke rumah Dome New Nglepen.”Pada waktu itu (2006), tanahnya turun dan ada longsor. Nah, yang kemarin kena dampaknya lagi akibat hujan deras. Sudah ada retakan tanah dengan ukuran dua meter,” jelasnya, kemarin (1/112).

SP khawatir retakan menjadi potensi longsor besar. Terlebih jika terjadi hujan dengan intensitas deras. Sebab, air hujan dapat masuk ke celah-celah tanah. Peristiwa ini setidaknya mirip dengan jebolnya DAM Losari II Wukirharjo, Selasa (28/11) lalu.

Untuk mematangkan rencana relokasi SP mendorong pemerintah desa bergerak cepat. Salah satunya dengan memanfaatkan Tanah Kas Desa (TKD). Pemindahan setidaknya bisa memanfaatkan TKD milik Desa Sumberharjo. Inventaris TKD di Sumberharjo dinilai cukup jika hanya untuk merelokasi 10 KK. Bisa dekat dengan rumah dome atau bagaimana terserah musyawarah warga.”Yang penting warganya sadar dan mau pindah,” ujarnya.

Mengenai keluhan warga atas ternak, SP juga meminta menyiapkan kandang khusus. SP sadar, keengganan warga untuk pindah karena keberadaan hewan ternak. Sehingga relokasi setidaknya dilakukan sepaket dengan hewan ternak yang dimiliki. Hewan peliharan bisa ikut dievakuasi sekalian agar warga tidak balik lagi.

Camat Prambanan Eko Suhargono menjelaskan, pertimbangan utama relokasi adalah keselamatan warga. Setidaknya hingga saat ini warga sudah berada di pengungsian. Dia khawatir jika hujan kembali datang, kesempatan untuk menyelamatkan diri kecil.

Berdasarkan data posko Wukirharjo setidaknya ada 20 KK yang mengungsi. Jumlah ini tidak hanya dari desa Wukirharjo, adapula dari Desa Gayamharjo, Sumberharjo, Sambirejo dan Bokoharjo. Mayoritas tertimpa longsor, pohon tumbang hingga tanah retak.

Menurutnya, lokasi relokasi dibahas nanti setelah situasi benar-benar kondusif. Untuk saat ini kebutuhan mendesak berupa dukungan logistik. “Kami juga sudah mengajukan ke Dinas PUPKP Sleman untuk perbaikan askes dan talud yang rusak,” jelasnya. (dwi/din)