Bantu-Bantu di Warung Gudeg Basah Milik Keluarga

Kompetisi Liga 1 dan Liga 2 rehat sementara. Setidaknya untuk dua-tiga bulan ke depan. Tentu saja pemain dan pelatih tidak banyak beraktivitas di sepak bola. Alih-alih menganggur, pelatih PSIM Jogja Erwan Hendarwanto tetap sibuk. Apa yang dia lakukan ?
Rizal SN, Bantul
Siang itu, sebuah mobil keluaran terbaru merk ternama terparkir di depan warung makan gudeg di Jalan Wates, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Si pemilik keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki warung. Pria itu bukan ingin memesan menu makan siang. Ternyata dialah Erwan Hendarwanto pelatih PSIM menantu si pemilik warung.

Ya, setelah PSIM rehat, kesibukan Erwan beralih dari lapangan ke usaha milik keluarga tersebut. Yaitu usaha keluarga besar Bu Sri. Anak kedua Bu Sri yaitu Nur Aini Lestari adalah istri Erwan yang meneruskan usaha warung gudeg basah tersebut.
Dirintis sejak 1975, warung Bu Sri termasuk yang pioner mengenalkan gudeg basah. Sebab pada umumnya ketika itu masih banyak yang berjualan gudeg kering. Yang membedakan gudeg basah dan gudeg kering yaitu menggunakan kuah untuk sajianya.

Saat ini ada dua cabang warung gudeg basah milik keluarga. Selain di Jalan Wates, satu lagi berada di Kuncen atau Jalan HOS Cokroaminoto, Wirobrajan, Kota Jogja. “Masih usaha keluarga, kami yang mengurusi mengelola. Kalau saya sekarang bantu-membantu antar pesanan kantor atau kampus,” kata Erwan.

Pesanan sudah ada sejak pukul 06.00 dan pada siang hari sekitar jam 10.00-12.00. Jika pesanan dalam jumlah besar, perlu beberapa mobil untuk mengantar maka Erwan ikut membantu mengantarkan. Sebab meskipun sudah ada 15 karyawan untuk dua tempat tersebut kadang masih sedikit kerepotan.

Erwan lalu menceritakan awal mula perkenalan dengan Nur Aini di medio 2000 ketika itu. Waktu itu sebagai pemain sepak bola, Erwan malang melintang di beberapa klub. Sempat berlatih di Diklat Salatiga sejak 1993-1996, kemudian di 1996-1997 hijrah ke Pusri Palembang. Setelah kompetisi berhenti pada 1998, setahun kemudian dia ke Jogja dan bergabung di Gama FC.

Nah, ketika itu mess pemain Gama berada di Wirobrajan dan dekat dengan warung milik Bu Sri. Beberapa kali mampir, Erwan lalu berkenalan dengan anak pemilik warung. Perkenalan itu berlanjut meskipun Erwan berpindah klub ke PSIM (2000-2001), Perserang (2003) dan PPSM (2004). Keduanya lalu memutuskan menikah pada 2006 lalu.

“Waktu itu sebenarnya tidak sering, tapi karena diajakin teman-teman lalu kenal. Waktu itu mess dan warung dekat,” tutur pelatih yang telah mengantongi lisensi C AFC tersebut.

Setelah menikah, Erwan sempat beberapa tahun bekerja kantoran setelah gantung sepatu. Bahkan pada 2010 pernah bekerja di sebuah bank swasta. Sampai pada suatu ketika ada tawaran kursus pelatih datang padanya. Sempat tidak yakin di awal, namun karier melatih Erwan cukup moncer.

Dimulai sejak menukangi Gama FC di 2011, lalu Tunas Jogja setahun kemudian, kemudian di 2012 diminta menjadi asisten Maman Durachman di PSIM Jogja. Dia juga belum yakin awalnya ketika dipasrahi melatih PSIM pada 2016 lalu.

“Kadang merasa terlalu cepat tapi akhirnya saya mantapkan dengan dukungan keluarga. Tapi juga dengan tidak lupa terus belajar dan diskusi dengan teman pelatih dan pemain,” tuturnya.

Saat ini, dengan adanya rehat kompetisi maka dia punya banyak waktu dengan membantu usaha keluarga dan menghabiskan waktu bersama dua buah hatinya. “Antar jemput anak juga, satu kelas 4 SD yang satu baru TK,” imbuhnya. (din/ong)