Sanitasi Buruk dan Kesadaran Hidup Sehat Rendah

KULONPROGO – Data yang dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo mencatat kasus stunting (bayi pendek) mencapai 3.496 balita per 12 November 2017. Pemicunya, sanitasi buruk dan kesadaran hidup sehat rendah.

“Kulonprogo ada di urutan 43 dari 100 kabupaten/kota yang membutuhkan intervensi stunting,” kata Kepala Dinkes Kulonprogo Bambang Haryatno. Dia mengatakan hal tersebut sesuai data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI pada 2013.

Asupan gizi seimbang harus diberikan kepada ibu hamil dan anak yang dikandungnya. “Sanitasi dan kebersihan lingkungan juga harus diperhatikan,” katanya saat Sosialisasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan 2017 di Ruang Adikarta, Gedung Kaca, Kompleks Pemkab Kulonprogo, kemarin (12/12).

Menurut Bambang, perlu dibangun kesadaran pentingnya hidup sehat. Lingkungan bersih serta sanitasi yang baik. Gizi buruk dan stunting memiliki keterkaitan.

Sanitasi yang baik akan mendukung terserapnya asupan gizi maksimal dalam tubuh ibu hamil. Anak juga akan baik tumbuh kembangnya.

“Kalau anak sering diare, maka pertumbuhannya tidak maksimal. Kesadaran Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) masih di bawah target,” ujar Bambang.

Orang tua harus benar-benar mengamati tumbuh kembang anak selama 1.000 hari pertama kehidupannya. Dihitung sejak anak masih dalam kandungan, lahir, kemudian berusia dua tahun.

“Biasanya, orang tua akan bingung melihat anaknya mengalami penurunan pertumbuhan fisik pada usia tiga bulan. Padahal asupan air susu ibu (ASI) sudah cukup,” katanya.

Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Dirjen PAUD dan Dikmas, Kemendikbud RI, Sukirman menjelaskan, balita stunting secara fisik bisa dilihat dari tinggi badan di bawah standar pertumbuhan anak normal seusianya. Bayi stunting mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah usia lima tahun, akibat kekurangan gizi kronis.

“Di Indonesia sendiri, ada 37% atau hampir 9 juta anak balita di Indonesia mengalami stunting. Sebanyak 40 persen kasus stunting tidak hanya dialami keluarga miskin, tetapi juga dialami keluarga yang berada di atas 40 persen tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi,” jelasnya. (tom/iwa)

==

GRAFIS:

10 Desa Terinventarisir Persoalan Stunting

  1. Desa Nomporejo, Kecamatan Galur
  2. Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo
  3. Desa Karangsari, Kecamatan Pengasih
  4. Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih
  5. Desa Donomulyo, Kecamatan Nanggulan
  6. Desa Kebonharjo, Kecamatan Samigaluh
  7. Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh
  8. Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh
  9. Desa Ngargosari, Kecamatan Samigaluh
  10. Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh

===

Kasus Gizi Buruk Penyebab Stunting

  1. Tahun 2013: 75 Kasus
  2. Tahun 2014: 35 Kasus
  3. Tahun 2015: 24 Kasus
  4. Tahun 2016: 29 Kasus
  5. Tahun 2017: 34 Kasus

===

Sumber Data: Dinkes Kulonprogo