SLEMAN- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman harus secepatnya gumregah menyambut berdirinya New Yogyakarta International Airport (NYIA). Target operasional bandara pada 2019 sudah di depan mata. Karena itu rencana strategi (renstra) pariwisata perlu digodog secara matang.

Pesan itu disampaikan peneliti pariwisata dari Universitas Sanata Dharma (USD) Ike Janeta Dewi, kemarin (12/12). Sleman barat, lanjutnya, belum ideal sebagai kawasan wisata. Padahal kawasan ini direncanakan menjadi pintu gerbang Sleman dari NYIA. Salah satu penyebabnya, belum kuatnya manajemen wisata di desa kawasan Sleman barat. “Pariwisata itu terdapat empat elemen, pengembangan destinasi, industry, pemasaran dan kelembagaan. Sementara untuk Sleman barat belum terkelola dalam kelembagaannya,” ujarnya.

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh timnya, di wilayah ini ada ruang kosong. Sebab, mayoritas warga Sleman barat berprofesi sebagai petani dan ini tentunya ini menjadi kendala tersendiri dalam mengelola potensi wisata.Ike juga menyoroti konsep wisata minapadi di kawasan Seyegan. Sayangnya konsep ini tidak berjalan konsisten. Terbukti saat ini kemasan justru merosot. Mulai dari promosi hingga pendampingan kepada pengurus wisata minapadi. “Pengalaman di Sleman barat mereka (warga) itu mau mengelola wisata tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Harusnya instansi terkait membantu membuat perencanaan, setelahnya didampingi hingga berjalan ideal,” jelasnya.

Ike juga memberi catatan atas pemanfaatan dana desa. Selama ini dana yang digulirkan pemerintah pusat belum menyentuh sektor wisata secara optimal. Padahal pemanfaatan yang tepat bisa menjadi potensi ekonomi yang kuat. Terbukti dari pemanfaatan dana desa di Umbul Ponggok Klaten.

Pemkab juga harus jeli menangkap keluhan warganya. Termasuk melemahnya sector pertanian. Warga, lanjutnya, harus diberikan pemahaman tentang nilai tambah. Pengemasan wisata bersama pertanian mampu menjadi kekuatan perekonomian bagi warga. “Bisa dikemas bersama potensi yang ada di sekelilingnya. Seperti kerajinan tenun hingga potensi kulinernya. Dihadirkan dalam wujud paket wisata,” katanya.

Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Sleman Arif Setio Laksito menuturkan Sleman setidaknya memiliki empat arah kebijakan. Pertama terkait pembangunan NYIA, stagnasi produk wisata, daya dukung kawasan wisata hingga upaya branding.

Hal tersebut mengarah pada impilkasi kebijakan. Menyambut NYIA dengan mengembangkan ruang pariwisata baru di wilayah konektovitas bandara. Stagnasi dihadapi dengan diversifikasi produk wisata.”Meningkatkan kemampuan dalam memandu wistawan termasuk pola perjalanannya. Branding dengan penataan kawasan khusus yang memiliki kaitan dengan branding wisata di Sleman,” ujarnya. (dwi/din)