KULONPROGO – Nasib nahas harus dialami Sri Yuliati, 35, dan anaknya Mohammad Hisyam, 14, warga Pedukuhan Pantog Kulon, Desa Banjaroya, Kalibawang. Keduanya tewas terseret arus selokan intake Sungai Progo, tepatnya di Desa Banjaroyo, Kalibawang, Rabu (13/12).

Keduanya ditemukan dengan kondisi sudah tidak bernyawa. Jasad Yuliati ditemukan terlebih dahulu sekitar pukul 15.00 di wilayah Pedukuhan Semak, Desa Banjarasri sekitar tujuh kilometer dari titik awal korban hanyut.

“Korban ditemukan mengambang di aliran air dalam posisi telungkup oleh warga sekitar. Ada darah mengucur dari luka di keningnya, diduga karena terbentur batu saat terbawa arus,” kata saksi mata Agutinus Heri Setiawan, warga setempat.

Sementara jasad Hisyam ditemukan tersangkut bambu di bawah jembatan di wilayah Ngrajun, Desa Banjarharjo sekitar pukul 15.00 atau sekitar tiga kilometer dari lokasi kejadian. Sebelumnya, warga beserta relawan dan elemen search and rescue (SAR) sempat melakukan penyisiran di sepanjang sungai tersebut.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, kronologis kejadian bermula ketika keduanya berada di selokan. Hisyam mandi dan bermain air di tepian selokan, sementara sang ibu menungguinya. Diduga, Hisyam terjatuh ke dalam aliran sungai yang dalam dan berarus deras tersebut, kemudian sang ibu mencoba menolongnya.

“Nahas ibunya juga ikut terjatuh dan keduanya langsung terseret arus. Saya hanya berhasil menemukan sandal Hisyam di tepi selokan. Setelah dicari tak juga ketemu akhirnya saya bilang ke tetangga untuk mencarinya,” ucap Kakak Sri Yuliati, Sulasih saat ditemui di rumah duka.

Dia mengaku tidak pernah menyangka akan kehilangan kedua anggota keluarganya. “Saya sempat menemukan baju dan sandal Hisyam di pinggiran selokan. Ada sandal Yuliati juga,” imbuhnya seraya tidak mampu menahan kesedihan.

Menurutnya, Hisyam sang keponakan memang cukup sering bermain air di selokan tersebut. Namun, seingatnya, baru dua kali ini korban mandi di selokan. Hisyam memang memiliki riwayat autisme. “Memang anaknya kurang begitu nalar,” ujarnya.
Kepala Desa Banjaroya Anton Supriyono mengamini, Hisyam memang menderita autisme dan tinggal hanya bersama ibunya. Sementara sang ayah, menurut kabar sudah pisah ranjang dengan ibunya dan tidak diketahui rimbanya sejak Hisyam masih anak-anak. (tom/ila/ong)