MUNGKID – Penambangan galian golongan C di kawasan lereng Gunung Merapi memakan korban jiwa kemarin (18/12) pagi. Delapan orang tewas tertimbun material pasir, sementara delapan lainnya mengalami luka-luka hingga dilarikan ke rumah sakit.

Peristiwa yang memprihatinkan ini bermula dari warga yang tengah menambang pasir di kawasan Begho Kependem, Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Di sekitar tebing, warga menambang dengan cara manual. Seketika gunungan pasir mengalami longsor.

Para penambang yang berada di bawah tidak sempat menyelamatkan diri. Alhasil, belasan warga tertimbun pasir bercampur batu. Material longsoran diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 30 meter dan lebar 35 meter.

“Para penambang manual yang sedang menggali itu tiba- tiba tertimbun longsoran setelah tebing di atasnya runtuh sekitar pukul 09.30. Para penambang tidak sempat menyelematkan diri,” jelas Nur Fauzan, salah seorang relawan di lokasi kejadian kemarin.

Saat itu, cuaca di lokasi penambangan diketahui sedang cerah. Setelah mengetahui peristiwa longsor, warga dan relawan kemudian mendatangi lokasi. Mereka berusaha mengevakuasi para korban yang tertimbun dengan peralatan seadanya.

Proses evakuasi berlangsung hingga beberapa jam. Selain menggunakan peralatan slenggrong dan sejenisnya, alat berat berupa backhoe juga dikerahkan ke lokasi. Selain para penambang, masih ada kendaraan berupa truk yang tertimbun material longsoran.

“Beberapa truk tambang yang ikut tertimbun longsoran itu sedang menunggu antrean untuk diberi muatan. Truk-truk itu juga berada di bawah tebing kawasan tambang pasir,” jelas Fauzan.

Fauzan ikut mengevakuasi para korban yang tertimbun. Mereka yang selamat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muntilan. Delapan orang diketahui tak bisa diselamatkan dan delapan lainnya mengalami luka-luka.

“Evakuasi korban dilakukan BPBD bersama anggota TNI, Polri, Damkar, relawan dan warga,” kata Fauzan.Beberapa peralatan berat juga didatangkan ke lokasi untuk mempercepat proses evakuasi.

Menanggapi jatuhnya banyak korban jiwa kali ini, pembina kelompok penambang manual Anang Imamuddin menyebut peristiwa ini sebagai musibah. Bencana ini dimungkinkan masih ada kaitannya dengan peristiwa gempa beberapa hari lalu.

Getaran yang timbul mengakibatkan gundukan pasir mudah longsor.”Gempa yang cukup kuat beberapa hari lalu itu, setidaknya membuat kawasan tambang pasir menjadi rawan longsor. Apalagi, tebing yang longsor itu cukup tinggi,” katanya.

Selain ke RSUD Muntilan, ada juga korban lain yang dibawa ke RSUP Dr Sarjito Jogjakarta. Dari delapan korban yang selamat, di antara mereka ada yang patah tulang.”Dari delapan selamat, dua dibawa ke RS Sarjito,” jelasnya.

Ia mengaku, sebelumnya para penambang ini sudah proses didaftarkan ke BPJS. Namun setelah dicek, ternyata belum terdaftar. Selain tenaga manual, Imamuddin juga mengerahkan alat berat backhoe ke lokasi untuk membantu evakuasi.(ady/laz/ong)