Berkah Sebuah Lukisan Seharga Rp 20 Juta

Kondisi perekonomian Indonesia 18 tahun lalu gonjang-ganjing. Sendi-sendi perekonomian lumpuh akibat krisis moneter. Kondisi ini berangsur membaik setelah Pintu Pemberitahuan lahir di muka bumi.
ZAKKIMUBAROK,Bantul
“Pintu,” ucap seorang pemuda bersalaman memperkenalkan diri saat Radar Jogja bertamu di rumahnya, Minggu (24/12). Diselingi oboralan basa-basi, pemuda berambut lurus ini lantas mengajak Radar Jogja ke salah satu bangunan artistik yang terletak di sisi paling selatan.

“Di studio saja, ya?,” tanya Pintu menawarkan.

Ya, bangunan bernuansa khas Bali tersebut adalah studio milik ibunya, Luwi Utami. Sekaligus studio keluarga. Entah kebetulan atau tidak, di ruangan yang dindingnya penuh warna hitam putih dengan motif kotak-kotak ini anggota keluarga inti Pintu berkumpul. Ada ibu dan adik perempuan Pintu bernama Calvina Azumi Putri Pratiwi.

Meski begitu, suasana di ruangan yang penuh dengan deretan piala ini tak terasa kaku. Bahkan sangat hommy. Luwi lantas mempersilakan Radar Jogja duduk untuk berbincang-bincang dengan putra sulungnya. Seolah mengetahui bahwa kedatangan Radar Jogja karena nama unik putranya itu, yakni Pintu Pemberitahuan.

“Ada yang panggil Pintu. Ada juga yang Pinto atau Pito,” tutur Pintu menyebut beberapa panggilannya.
Baginya, Pintu Pemberitahuan semula seperti nama pada umumnya. Pintu tak merasa ada yang aneh, hingga dia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Teman-teman sebayanya mulai mengejek nama nyentriknya itu. Lama-kelamaan, Pintu memberanikan diri bertanya kepada ibunya. Ingin memastikan kenapa diberi nama Pintu Pemberitahuan.

Bukannya berontak, Pintu justru menerima penjelasan sang ibu. Pintu bercerita, namanya lekat dengan sejarah perjalanan keluarganya. Pada 1999 kedua orang tuanya, Iswanto-Luwi, menggelar pameran lukisan tunggal di Jakarta. Sebuah keputusan yang sangat berani. Sebab, kondisi perekonomian Indonesia saat itu nyaris lumpuh. Daya beli masyarakat sangat rendah. Jangankan membeli barang sekunder, tidak sedikit masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan primernya.

Lumpuhnya sendi-sendi perekonomian ini juga berdampak pada kehidupan kedua orang tua Pintu. Dengan pendapatan pas-pasan plus masih tinggalmengontrak rumah di wilayah Kasongan, Iswanto-Luwi nekat menggelar pameran tunggal. Untuk sekadar survive. Padahal saat itu sang ibu sedang hamil tua.

Singkat cerita, tanda-tanda kenekatan kedua orang tua Pintu membuahkan hasil. Sebuah lukisan karya ayahnya terjual sekitar Rp 20 juta. “Judul lukisannya ‘Pintu Pemberitahuan’,” tuturnya.

Seolah mendapat ide, ibunya lantas berinisiatif memberikan nama Pintu Pemberitahuan kepada janin yang di kandungnya. Pintu bercerita, dia lahir sesaat setelah lukisan ayahnya terjual.

“Lukisannya laku sekitar 20 menit setelah opening pameran,” ungkap pemuda kelahiran 26 Februari 1999 ini.
Dengan nama unik ini, Pintu kerap mengalami berbagai pengalaman lucu. Contohnya, saat berada di loket pembayaran tilang. Suatu hari, Pintu mengantre di depan loket menunggu panggilan. Saat panggilan, seorang perempuan yang berada di belakangnya kemudiannyeletuksetelah mendengar nama uniknya melalui pengeras suara.

“Pie bapakne lehe jenengi (bagaimana ayahnya memberi nama itu, Red),” kenang Pintu tertawa menirukan komentar terhadap namanya.

Pengalaman lain, beberapa teman barunya kerap tak percaya dengan namanya. Mereka barungehsetelah melihat kartu tanda penduduk (KTP) Pintu. Menurutnya, tak jarang beberapa temannya ingin mengunggah KTP-nya di media sosial. Namun, Pintu selalu menolaknya.

KTP mahasiswa semester I Akademi Perikanan Yogyakarta ini baru terunggah di jejaring medsos beberapa waktu lalu. Saat itu, pemuda yang punya hobi melukis ini mendaftar sebagai peserta workshop di Purwokerto. Panitia tak percaya ada peserta bernama Pintu Pemberitahuan. Guna meyakinkan, Pintu akhirnya menyerahkan KTP-nya. Tak dinyana, KTP ini kemudian difoto lalu diunggah di medsos oleh panitia. Kemudian, viral.

“Akun Facebook dan Instagram juga dengan nama Pintu Pemberitahuan,” lanjutnya.

Kendati viral, Pintu tetap meyakini namanya sebagai tanda keberuntungan keluarganya. Seperti harapan ibunya.

“Untung, adik tidak diberi nama Jendela. Kalau iya jadi kayak keluarga material rumah dong,” kelakarnya.
Di tengah obrolan, Luwi yang sempat keluar ruangan kembali nimbrung. Sembari membawa minuman dan camilan.

Sebagaimana keyakinan Pintu, sang ibu juga meyakini nama Pintu Pemberitahuan merupakan tanda keberuntungan keluarganya. Sebanyak 22 karya lukisan suaminya laku terjual setelah “Pintu Pemberitahuan” menandai. Bahkan, Luwi dan suaminya bisa mengantongi Rp 400 juta dari pameran tunggal.

“Jadi tanah dan rumah ini. Termasuk mobil juga,” ucap Luwi mengungkapkan bahwa lukisan Pintu Pemberitahuan menggambarkan seorang joki memacu kudanya demi berjuang.

Lalu, siapa yang membeli Pintu Pemberitahuan? Perempuan yang kerap disapa Luwi Blaster ini menyebut Pia Alisyahbana yang membelinya. Perempuan yang pernah menjadi pemimpin redaksi Majalah Kartini.(yog/ong)