SLEMAN – Peringatan 71 tahun berdirinya Desa Condongcatur dirayakan meriah Selasa (26/12). Diawali dengan kirab empat bergada dan gunungan hasil bumi di Balai Desa Condongcatur, Depok, Sleman.

Kepala Desa Condongcatur Reno Candra Sangaji menuturkan, kirab adalah kilasan sejarah. Setiap bergada merupakan perwakilan empat desa lama. Awal berdirinya Desa Condongcatur terdiri dari empat desa yang melebur jadi satu.

“Pada 26 Desember 1946, atas keputusan Gubernur DIJ saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX memerintahkan empat pedesaan melebur jadi satu. Tepatnya Desa Gorongan, Manukan, Kentungan, dan Gejayan,” katanya.

Kirab sejarah ini perlu digelar, lanjutnya, karena bertujuan sebagai edukasi sejarah. Diakuinya belum semua warga Condongcatur paham sejarah desanya. Terlebih warga desanya sudah berbaur antara warga asli dan pendatang.

Empat bergada yang turut dalam kirab di antaranya, Bergada Paksi Jayeng Katon, Bergada Kromo Yudha, Bergada Sastra Diharjan, dan Bergada Hadi Manggala. Reno menuturkan, jumlah bergada sejatinya lebih banyak.

“Condongcatur terdiri dari 18 pedukuhan, dan dulu masing-masing punya bergada. Untuk saat ini bergada yang tampil mewakili empat desa lama,” ujarnya.

Gunungan hasil bumi merupakan wujud syukur. Gunungan terdiri dari sayur dan buah-buahan merupakan hasil pertanian warga. Meski beberapa kawasan pertanian telah menjadi kawasan hunian.

“Petani di Condongcatur tetap ada dan eksis. Terbukti dengan adanya hasil bumi dalam gunungan ini. Gunungan ini disusun dan diberikan kepada warga sebagai bentuk berbagi rezeki hasil bumi,” jelasnya.

POTONG TUMPENG: Pemotongan tumpeng oleh Kepala Desa Condongcatur Reno Candra Sangaji saat malam tirakatan bersama di Pendopo Balai Desa Condongcatur, Senin malam (25/12).

Warga yang hadir antusias mengikuti prosesi kirab. Upacara adat ini dikemas dalam nuansa Jawa yang kental. Para peserta mengenakan surjan, lurik dan kebaya. Lengkap dengan bahasa Jawa, bahkan dalam komando pasukan.

Dalam kesempatan ini Reno masih memiliki impian terhadap Condongcatur. Sebagai kawasan sub urban, Condongcatur memiliki potensi yang sangat melimpah. Perlu pengolahan yang optimal baik untuk infrastruktur maupun sumber daya manusianya.

“Masih menargetkan perbaikan di sejumlah infrastruktur seperti jalan dan gorong-gorong. Ada pendampingan juga untuk warga terutama untuk mengangkat potensi UMKMnya,” ujarnya.
Agenda sebelumnya, diadakan malam tirakatan bersama di Pendopo Balai Desa Condongcatur, Senin malam (25/12).

Mengusung tema “Condoncatur Menuju Sleman Smart Regency” dengan pembicara Rahmat Taufik dari STIMIK Amikom Jogjakarta. Dalam kesempatan tersebut dibagikan sejumlah beasiswa bagi anak yang masih bersekolah di tingkat SD, SMP, SMA di masing – masing Padukuhan, serta pembagian sembako. (mg10/dwi/ila/ong)