JOGJA – Oplosan masih saja menjadi perenggut maut warga Jogjakarta. Akhir tahun ini minuman keras oplosan kembali menebar teror bagi para penenggaknya. Setelah Agus Supardiono,55, warga Gedongtengen dipastikan tewas akibat oplosan, Senin (25/12), pada waktu hampir bersamaan nyawa dua orang kakak beradik, Didik Nurcahyadi, 39, dan Kun Hartono,37, warga Cokrodiningratan RT 11/RW 76, Jetis, melayang akibat oplosan. Keduanya mengembuskan napas terakhir setelah dirawat di RS Panti Rapih. Didik meninggal Senin (25/12) sore sekitar pukul 16.00, sedangkan Kun dinyatakan meninggal oleh dokter kemarin (26/12) pukul 03.00.

“Keduanya (Didik dan Kun, Red) dibawa ke Panti Rapih oleh keluarganya pada Senin (25/12) karena mengalami mual dan badan terasa dingin,” ungkap Kapolsek Jetis Kompol Hariyanto kemarin (26/12).

Menurut Hariyanto, kasus oplosan menjadi prioritas penyelidikan kepolisian di penghujung 2017 ini. Namun penyidik masih menemui jalan buntu dalam pengungkapan perkara tersebut lantaran minimnya alat bukti.

“Pesta minum di mana dan siapa saja, kami belum tahu. Tidak ada saksi yang akurat,” katanya.
Penyelidikan di rumah Didik dan Kun pun tak diperoleh bukti-bukti yang mengarah pada penyebab keduanya meninggal dunia. Dugaan tewasnya Didik dan Kun akibat oplosan berdasarkan keterangan yang diterimanya dari rumah sakit.

“Lokasi minum dan beli dari mana oplosan itu masih kami selidiki. Sebab, informsasi dari warga setempat pada saat itu tidak ada yang menggelar pesta oplosan di kampung mereka,” lanjut Haryanto.

Sementara berdasarkan informasi yang diterimanya dari keluarga Didik dan Kun, Haryanto menduga, kakak beradik tersebut pesta oplosan pada Minggu (24/12) malam. Ada kemungkinan perkara ini ada kaitannya dengan pesta oplosan yang dilakukan Agus Supardiono dan Edy Suyatman di Gedongtengen. Kendati kejadiannya hampir bersamaan, Haryanto belum bisa menyimpulkan keterkaitan dua kasus tersebut. “Sementara kami nyatakan berbeda. Saksi yang diharapkan (Kun, Red) akhirnya meninggal juga” jelasnya.

Kanitreskrim Polsek Jetis Iptu Muzakki menambahkan, sebelum kejadian perkara Didik dan Kun sempat pamitan kepada istri Didik saat mau keluar rumah sekitar pukul 18.00, Minggu (24/12). Sekitar pukul 23.00 Didik menjemput istrinya yang bekerja di Malioboro.

Pada Senin (25/12) sore, Didik mengeluh kepada istri merasakan sakit di bagian perut. Sedangkan Kun merasakan hal serupa pada malam harinya. Keduanya lantas dibawa ke RS Panti Rapih hingga dinyatakan meninggal.
Sementara itu, keluarga Didik dan Kun menolak dimintai keterangan ikhwal tewasnya kakak beradik tersebut. Jenazah keduanya pun segera dimakamkan setelah diturunkan dari mobil ambulans dengan peti.

Salah seorang pria bertubuh kurus dengan kumis tebal mengaku sebaga kakak Didik dan Kun. Dia keberatan dengan kehadiran awak media yang memantau proses pemakaman. “Silakan meliput di layatan di kampung lain. Jangan disini,” hardiknya. “Kami keluarga sudah ikhlas atas kepergian adik kami,” lanjutnya dengan nada tinggi.

Di bagian lain, anggota Polsek Gedongtengen telah berhasil mengungkap penyebab tewasnya Agus Supardiyono. Dari bukti-bukti yang didapat, Agus diduga tewas setelah menenggak minuman bersoda dicampur alkohol 70 persen bersama Edy Suyatman yang kini masih dirawat di RS PKU Muhammadiyah Jogja. Polisi mendapati botol alkohol antiseptik disinfektan untuk kompres itu di rumah Agus di Kampung Pringgokusuman pada Senin (25/12) sore. Tampak masih ada sisa cairan dalam botol alkohol berkapasitas 300 mililiter itu. “Kami temukan di emperan rumahnya (Agus, Red) dengan dua botol minuman soda berukuran kecil dan sedang,” kata Panit II Polsek Gedongtengen Aiptu Suprat di mapolsek setempat kemarin.
Alkohol tersebut selama ini memang bisa didapatkan di apotek atau toko-toko kelontong. Alkohol tersebut biasanya digunakan untuk mengompres luka terbuka.

“Dugaan kuat kami karena cairan tersebut yang membuat Agus meninggal. Diperkuat keterangan rumah sakit jika dia meninggal akibat keracunan,” paparnya.

Terpisah, Kepala Bagian Hukum, Humas, dan Pemasaran PKU Muhammadiyah Jogja Anwar Fitanta membenarkan jika Agus dan Edy telah dirawat sejak Senin (25/12) dini hari. “Yang meninggal (Agus, Red) kondisinya sudah sangat memburuk,” ungkap dia.

Penanganan terhadap Edy, pihak rumah sakit telah melakukan intoksinasi untuk mengeluarkan racun yang masuk di dalam tubuhnya. Edy juga harus menjalani cuci darah guna membersihkan racun.
“Kondisinya sudah sadar namun masih dalam observasi,” jelasnya.

Dikatan, Edy kini sudah dipindahkan ke bangsal perawatan dari sebelumnya di unit gawat darurat. Namun, sampai kemarin kondisinya masih lemah, sehingga belum dapat dimintai keterangan oleh aparat kepolisian.(pra/bhn/yog/ong)