JOGJA – Tewasnya tiga warga Kota Jogja setelah nenggak oplosan membuat Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi makin geregetan. Bagaimana tidak, sudah tak terhitung korban nyawa melayang atau cacat gara-gara keracunan oplosan. Tapi hal itu tetap saja tak membuat kapok para penggila alkohol lain.

HP, sapaannya, menegaskan, kebiasaan minum oplosan adalah perbuatan konyol. Masyarakat seharusnya belajar dari kasus-kasus kematian akibat oplosan yang berupa campuran zat-zat kimia berbahaya. “Semua memang kembali pada kesadaran masing-masing individu untuk segera menghentikan kegemaran minum (oplosan, Red),” ujar HP di kantor DPRD Kota Jogja Rabu(27/12)

Nah, berkaca dua kasus pesta oplosan yang merenggut nyawa warga Gedongtengen dan Jetis beberapa waktu lalu, HP, sapaannya, menginstruksikan seluruh ketua RT dan RW memperketat pengawasan wilayah masing-masing. Khususnya dalam mencegah pesta oplosan. Terutama di malam pergantian tahun mendatang. “Kejadian pesta (oplosan, Red) waktu lalu kan juga saat liburan,” ujar HP di kantor DPRD Kota Jogja Rabu (27/12). Ya, sebagaimana dugaan polisi, pesta oplosan di Gedongtengen dan Jetis dilakukan pada malam libur Natal lalu.

Dalam pengawasan melekat terhadap penyakit masyarakat, HP meminta seluruh perangkat mengintensifkan ronda malam.

“Jika ada warga yang ketahuan akan minum (alkohol, Red), harus langsung dicegah,” pintanya.
HP juga telah memberi instruksi Satpol PP untuk merazia penjual minuman beralkohol di Kota Jogja. Menurutnya, Satpol telah mengindentifikasi lokasi-lokasi yang selama ini dipakai berjualan oplosan.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X pun turut mengimbau kesadaran masyarakat untuk menjauhkan diri dari oplosan. Apalagi pemerintah juga telah melarang peredarannya. Seperti Perda DIJ Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol dan Oplosan.

HB X menegaskan, penegakan peraturan tetap membutuhkan peran masyarakat. “(Mau minum, Red) oplosan itu kan maunya masyarakat seperti itu. Saya tidak bisa mengontrol keliling tiap rumah,” ucapnya.

Sementara itu, terkait penyelidikan kasus tewasnya kakak beradik Didik Nurcahyadi,39, dan Kun Hartono,37, warga Cokrodiningratan, Jetis, polisi masih kesulitan mengumpulkan alat bukti. Meski informasi dokter menyebutkan kematian keduanya akibat keracunan oplosan, polisi tetap berusaha menelusiri asal-muasal kasus itu terjadi, serta mencari bukti-bukti untuk menguatkan diagnosis dokter.

“Belum ada bukti yang cukup kuat, kami masih menunggu hasil visum dari rumah sakit,” kata Kapolsek Jetis Kompol Haryanto kemarin.

Kendati demikian, dugaan tanda-tanda keduanya meninggal mengarah akibat oplosan memang ada. Hal tersebut diperkuat keterangan saksi-saksi yang mencium napas korban seperti bau minuman beralkohol.

“Namun kan keterangan itu belum kuat. Harus ada bukti saksi mata yang benar-benar menyaksikan. Termasuk hasil visum,” jelasnya.

Untuk mendalami kejadian tersebut, aparat juga akan menelusuri keberadaan Didik dan Kun saat berpamitan pergi kepada istri Didik. Polisi akan menggali keterangan dari teman-teman kedua kakak beradik tersebut. “Intinya didalami dulu, semoga segera bisa terungkap penyebabnya,” katanya.

Terpisah, Kapolresta Jogja Kombes Pol Tommy Wibisono mengklaim, wilayah hukumnya telah steril dari penjual minuman beralkohol ilegal. Alasannya, beberapa bulan sebelum digelar Operasi Lilin Progo 2017, telah digelar operasi pekat dengan sasaran minuman beralkohol dan premanisme. “Mudah-mudahan tak ada lagi penjual oplosan. Kalau ada pasti kami sikat,” tegasnya.

Di sisi lain Tommy mengakui sulitnya mencegah masyarakat mengonsumsi oplosan dengan meracik sendiri. Sebagaimana yang dilakukan Agus Supardiyono,55, warga Pringgokusuman, Gedongtengen. Nyawa Agus melayang akibat menegak racikan minuman bersoda dengan alkohol 70 persen.

“Mereka membeli bahan-bahannya dan meracik sendiri. Yang begini sulit dikontrol,” sesalnya.

Karena itu, Tommy mengimbau masyarakat agar tak segan melapor kepada polisi jika melihat ada orang berpesta minuman beralkohol atau oplosan. Tommy berjanji segera turun tangan bilamana mendapat laporan tersebut. (pra/bhn/yog/ong)