Tangkal Penyebaran HIV dengan Gerakan ABCDE

Menjabat kepala Puskesmas Gedongtengen membuat Tri Kusumo Bawono sangat akrab dengan dunia esek-esek. Maklum, di wilayahnya banyak dihuni pekerja seks komersial. Hal itu pula yang membuatnya paham dengan ekspresi orang yang baru saja dinyatakan positif HIV.
Heru Pratomo, Jogja
“Ngetes dan memberikan obat untuk pengidap HIV itu tidak butuh waktu lama. Yang lama itu menenangkan mereka kalau sudah menangis karena positif (HIV, Red),” ungkap Tri sambil tersenyum.

Di sela peringatan hari HIV/AIDS di Balai Kota Jogja beberapa waktu lalu, Tri sedikit berbagi pengalamannya mengenai pengidab HIV/AIDS yang menjadi pasiennya. “Ada juga lho laki-laki yang menangis sampai berjam-jam di ruangan saya setelah hasil tes darah menunjukkan dia positif HIV. Ternyata dia telah melakukan hubungan sejenis,” kenang Tri melanjutkan perbincangan dengan Radar Jogja.

Menurut Tri, virus HIV penyebab AIDS itu memang bisa menular ke orang lain. Tetapi tidak mudah penularannya.
Seseorang akan berisiko tertular HIV jika sering berganti pasangan, memakai narkotika jenis suntik, pernah menerima atau donor transfusi darah, dan memakai tindik atau tato dengan jarum yang tidak steril. “Semua itu bisa menyebabkan perpindahan virus dari orang lain masuk ke tubuh kita,” jelas pria yang sudah bertugas di Puskesmas Gedongtengen sejak 2004 silam.

Karena itu, orang-orang yang berisiko tersebut diimbau rutin melakukan pengecekan darah. Tes darah bisa dilakukan atas inisiatif sendiri atau lebih dikenal dengan istilah Voluntary Counseling and Testing (VCT). Atau berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan yang melihat adanya faktor risiko pada seseorang, yang disebutProvider Initiated Test and Counceling(PITC). Istilah ini juga dikenal dengan sebutan KTIP, yakni konseling dan tes atas inisiasi petugas.
“Tes darah hasilnya akurat. Cukup 30 menit sudah terlihat hasilnya,” ungkap Kasi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Jogja dr Endang Sri Rahayu.

Gejala fisik pengidap HIV tidak akan terlihat hingga memasuki fase tiga. Fase pertama, kata Endang, periode jendela. Seseorang yang terserang HIV, namun saat dites masih negatif.”Tapi jika memiliki faktor risiko, tiga bulan berikutnya kami minta cek lagi,” ujarnya.

Fase kedua, orang yang dites dan dinyatakan positif HIV masih terlihat bugar secara fisik.Memasuki fase ketiga gejala fisik mulai terlihat, seperti demam berkepanjangan, berat badan turun drastis, sariawan atau flu tidak sembuh-sembuh, hingga diare tanpa sebab. “Itu karena daya tahan tubuh pengidab HIV mulai menurun,” jelasnya.

Jika sudah masuk fase ketiga akan mudah masuk ke fase empat atau terkena AIDS. Masa inkubasi biasanya sekitarlimatahun. “Kalau sudah periode AIDS ini penyakit apa pun bisa masuk,” tambah Endang.
Pencegahannya, menurut Endang, virus sebenarnya bisa dikendalikan saat fase pertama. Dengan obat Antiretroviral (ARV). Di Kota Jogja ARV sudah bisa didapatkan secara gratis dan bisa dilayani di empat puskesmas, yaitu Puskesmas Umbulharjo 1, Mantrijeron, Tegalrejo, dan Gedongtengen.

Di antara empat puskesmas tersebut, paling banyak pasiennya di Gedongtengen.
Endang membenarkan, banyaknya orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Gedongtengen karena di wilayah tersebut terdapat banyak dihuni pekerja seks komersial. Terutama di kawasan Pasar Kembang dan Bong Suwung. “Ada256 orang yang mengakses ARV di Gedongtengen, yang lain masih belasan orang,” ujar Tri.

Di Kota Jogja akumulasi data jumlah kasus HIV sejak 2004 hingga Oktober 2017 mencapai 1.051 kasus. Khusus 2017 terdapat penambahan 157 kasus HIV baru. Sebelumnya, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota JogjaKaswantomengatakan, Gerakan ABCDE sebagai pencegahan penyebaran virus HIV/AIDS cukup ampuh menekan angka ODHA. Gerakan ABCDE dimulai dengan abstinence atau menahan dorongan seksual dengan tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah.

Kemudian be faithful, saling setia antarpasangan suami istri. “Tidak hanya salah satu, istri saja atau suami saja. Harus keduanya,” ujar Kaswanto.

Selanjutnya adalah memakai condom atau kondom, sebagai salah satu alat penangkal penyebaran virus HIV/AIDS saat hubungan seks berisiko. KPA Kota Jogja juga mengajak menjauhi drug atau narkoba, terutama pemakaian narkoba suntik. “Yang terakhir dengan edukasi, sosialisasi dan sebagainya kepada masyarakat,” paparnya.(yog/ong)