BANTUL – Kecelakaan maut terjadi di Jalan Wates KM 12,5 Dusun Kalakan, Argorejo, Sedayu, Bantul kemarin (27/12). Bus jurusan Jogja-Cirebon menabrak sepeda motor. Saking kerasnya tabrakan, pengendara sepeda motor, Fahri Aziz Mahbubi, 19, tewas seketika di tempat kejadian perkara (TKP). Bahkan, sepeda motor yang dikendarai pemuda asal Dusun Gandu, Tanjungsari, Petanahan, Kebumen ini terseret beberapa puluh meter di bawah kolong bus. Terseretnya sepeda motor inilah yang memicu bodi bus terbakar.

Badan bus berpenumpang 25 orang ini pun ludes terbakar. Demikian pula sepeda motor yang dikendarai korban.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 08.15. Bermula saat Bus PO Sahabat tersebut melaju ke arah barat. Sesampainya di Jalan Wates KM 12,4 badan bus yang dikemudikan Enjing, warga Bogor, keluar dari as jalan lantaran berusaha menyalip kendaraan di depannya. Nahas, dari arah berlawanan melaju sepeda motor yang ditunggangi Fahri. Benturan keras bus dan motor pun tak terelakkan.

Saking kerasnya benturan, tubuh Fahri terpental. Kepalanya menghantam aspal.

“Laju bus sekitar 80 kilometer per jam,” ungkap Kasatlantas Polres Bantul AKP Imam Bukhori di lokasi kejadian.

Menurut Imam, bagian kepala pemuda ini mengalami luka serius. Banyak darah bercucuran dari kepalanya. “Tewas seketika,” lanjutnya. Usai terjadi benturan bus dengan nopol E 7949 H itu masih melaju kencang. Sopir bus menghentikan laju kendaraannya setelah melihat kobaran api dari bagian bawah bodi.

Kerangka sepeda motor milik Fahri yang juga terbakar setelah terseret bodi bus sejauh beberapa puluh meter.(Setiaky a.kusuma/radar jogja)

Imam menengarai gesekan bodi sepeda motor dengan aspal memicu percikan api. Api kemudian membakar sepeda motor dan bus. Beruntung, kebakaran ini tak menyebabkan korban jiwa penumpang bus. Seluruh penumpang langsung berhamburan keluar setelah bus berhenti. “Hanya ada satu penumpang yang tangan kirinya patah,” ujarnya.

Ikhwal penyebab kecelakaan, Imam memastikan murni kelalaian sopir bus yang nekat menyalip kendaraan di depannya. Meskipun di saat bersamaan ada kendaraan yang melaju kencang dari arah berlawanan. Imam menegaskan bakal memproses hukum sang sopir hingga. “Pasti akan menuju status tersangka,” tegasnya.

Untuk memadamkan kobaran api bus dan motor polisi menerjunkan tiga unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit mobil water canon. Sedangkan untuk mengevakuasi badan bus digunakan alat berat.

Proses pemadaman api dan evakuasi memakan waktu hingga tiga jam. Saking padatnya arus lalu lintas pagi kemarin, kecelakaan tersebut menyebabkan kemacetan di Jalan Wates hingga sejauh tiga kilometer ke barat dan sekitar dua kilometer ke timur dari TKP.

Tumpukan kendaraan dari arah barat mulai tampak di atas Jembatan Bantar. Adapun dari arah timur, antrean kendaraan terlihat di depan kantor Basarnas DIJ.

Dwi Tarto, perwakilan PO Sahabat Wilayah DIJ, mengklaim, kondisi bus nahas tersebut layak jalan. Bus ini setiap hari hilir-mudik mengangkut penumpang Jogja-Cirebon pulang pergi. “Tadi saya yang memasukkan ke terminal sebelum berangkat,” katanya.

Sementara itu, seorang saksi mata, Kasmuji, menceritakan, kondisi Jalan Wates kemarin pagi normal. Tidak banyak kendaraan yang melintas. Namun, laju kendaraan dari arah timur maupun barat cukup kencang. “Karena jalannya halus, lebar, dan minim tikungan,” tuturnya.(zam/ong)