BANTUL – Bagi yang doyan mengonsumsi jeroan ayam atau sapi patut berhati-hati. Ini menyusul digerebeknya rumah Sukardi di RT 1 Dusun Plematung, Sidomulyo, Bambanglipuro, Kamis (28/12). Rumah itu diketahui menjadi tempat pengolahan jeroan ayam tiren (mati kemarin, Red) dan daging bangkai anjing. Jeroan ayam tiren dan jeroan dan bangkai anjing dimasak sedemikian rupa, kemudian dijual ke pasar-pasar tradisional. Seperti Pasar Barongan dan Bakulan. Tak jarang para pedagang langsung datang ke rumah Sukardi untuk kulakan.

Ironisnya, praktik yang jelas-jelas merugikan konsumen ini telah dijalankan selama lebih dari sepuluh tahun. Namun tak ada warga yang melaporkannya ke aparat. Warga baru melapor setelah praktik pengolahan ayam tiren dan bangkai anjing di rumah Sukardi kian meresahkan.

Kanit Opsnal Satuan Intelejen Brimob Polda DIJ Iptu Iswanto membenarkan jika terbongkarnya praktik ilegal di rumah Sukardi berkat laporan masyarakat. Itu pun polisi butuh waktu hingga sebulan untuk menyelidikinya. “Banyak warga yang resah,” jelas Iswanto di lokasi penggerebekan. Di situ polisi menemukan sejumlah barang bukti. Antara lain, beberapa ekor ayam tiren, jeroan, dan daging bangkai anjing. Penyidik lantas meminta petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan DIJ untuk memastikan kualitas jeroan ayam tiren dan daging bangkai yang diolah.

Dari pantauan, pengolahan jeroan dan daging bangkai ini di dapur rumah Sukardi. Di tempat ini, ada jeroan anjing yang sedang dimasak di dalam panci besar. Lalu, beberapa ekor ayam tiren dalam ember, serta daging bangkai anjing.

Di ruang sebelah dapur juga terdapat beberapa alat potong daging permanen yang terpasang. Bau busuk menyengat di ruangan yang penuh dengan jeroan dan daging serba bangkai. Bahkan, beberapa personel kepolisian ada yang hampir muntah setelah masuk dapur.

Dari hasil penyelidikan sementara, Iswanto menyebut, Sukardi memperoleh ayam tiren dari beberapa kandang (peternak ayam, Red). Per ekor dibeli Rp 2.500. Adapun bangkai anjing diperolehnya dari berbagai tempat. “Katanya (pengakuan Sukardi, Red) beli. Tapi itu memang bangkai,” bebernya.

Guna mengelabui konsumen, jeroan ayam tiren seperti usus dan ampela diolah hingga masak, sehingga tak kasat mata. Begitu pula dengan bangkai anjing. Dimasak agar menyerupai daging sapi.

“Yang menjual ke pasar berinisial Bnr, istri pelaku. Kepada pedagang dia mengaku jual iso sapi,” ungkap Iswanto. Beberapa warga yang menyaksikan penggerebekan itu mengenal istri Sukardi dengan nama Bonirah.

Panit Intel Sat Brimob DIJ Ipda Indra Uran menambahkan, pelaku memberikan potongan harga bagi pedagang yang kulakan langsung di rumahnya. Itulah yang menyebabkan olahan ayam tiren dan bangkai anjing di rumah Sukardi cukup laris.
Karena itu, Indra mewanti-wanti masyarakat selektif ketika membeli jeroan dan daging.

“Informasinya, Pak Sukardi juga lagi ada pesanan (jeroan dan daging, Red) untuk malam pergantian tahun nanti,” ujarnya.
Sukardi membantah telah memperjualbelikan jeroan ayam tiren serta jeroan dan daging bangkai anjing ke sejumlah pasar. Dia berdalih, produk olahannya untuk pakan babi. Kendati demikian, tak berapa lama bapak lima anak itu meralat keterangannya.

Dia menyebut jeroan anjing di dalam panci untuk konsumsi pribadi. Begitu seterusnya. Keterangan Sukardi kerap berubah-ubah. “Ning, nek ono sing nempil, yo, tak nehi (tapi kalau ada yang mau beli, ya, saya kasih,Red),” kelitnya.
Sukardi juga membantah tudingan polisi soal ayam tiren yang dibelinya dari kandang peternak ayam. Dia berdalih mendapatkan bangkai ayam itu dari pemilik kandang secara gratis.

“Aku, yo, sering melu ngewangi ngresiki kandang (saya sering ikut membersihkan kandang, Red),” elaknya.

Terpisah, Kasi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Bantul Yanatun menegaskan, jeroan bangkai anjing dan ayam tiren tak layak diperjualbelikan maupun untuk dikonsumsi. Meskipun sampel jeroan bangkai anjing yang diambilnya tidak menunjukkan tanda-tanda adanya kandungan bahan kimia, seperti formalin. Untuk memastikan zat yang terkandung pada bangkai tersebut diperlukan uji laboratorium. Kendati demikian, ketidaklayakan produk tersebut untuk dikonsumsi sudah terlihat dari ruang pengolahannya. “Sanitasinya buruk, terkesan kumuh. Ventilasinya juga tak memadai,” ucapnya.

Kasi Farmasi Makanan dan Minuman Anting Sarwitri menambahkan, pengolahan daging ada aturannya. Sekalipun disembelih saat hewan masih hidup. Sementara ayam tiren dan bangkai anjing berpotensi tercemar bakteri. Itulah yang menyebabkan produk tersebut tak layak dikonsumsi dan berpotensi menimbulkan bahaya lain bagi pengonsumsinya. (zam/yog/ong)