BANTUL- Rumah Sukardi memang cukup jauh dari permukiman warga lainnya. Hanya ada satu bangunan tempat tinggal yang berdiri persis di timur rumahnya.

“Itu milik anaknya. Tapi sudah meninggal. Rumah itu kosong,” kata seorang sumber tetangga Sukardi di RT 01 Plematung.
Sepengetahuannya, Sukardi pernah menekuni bisnis tongseng anjing (sengsu, Red). Bisnis itu pernah menuai kejayaannya sebelum dihantam gempa pada 2006.

BACA : Polisi Gerebek Rumah Produksi Jeroan Ayam Tiren

Agar asap dapur tetap mengepul, Sukardi pun banting setir mengolah ayam tiren dan bangkai anjing. Sebelum rutin memasok di Pasar Barongan dan Bakulan, istri Sukardi pernah menjualnya ke beberapa pasar tradisional lain.”Didol matengan (dijual sudah masak, Red),” beber sumber yang enggan dikorankan identitasnya.

Sumber tersebut mengungkapkan, pengolahan ayam tiren dan bangkai anjing di rumah Sukardi sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bagi warga setempat. “Tapi warga diam saja,” ungkapnya.

Sikap warga bukan tanpa alasan. Menurutnya, para tetangga Sukardi telah berulang kali memberikan teguran. Warga juga pernah meminta Sukardi mengubur sisa-sisa bangkai agar baunya tak mengganggu warga.
Sebab, Sukardi pernah membiarkan sisa-sisa bangkai begitu saja di depan rumahnya.

Sukardi ternyata malah merespons teguran itu dengan ancaman. Bahkan, dia pernah mengacungkan pedang dan menantang warga yang menegurnya.

“Makanya orang yang melapor (ke polisi, Red) juga bukan orang sini,” lanjutnya.(zam/yog/ong)