BANTUL – Papan peringatan yang terpasang di beberapa titik berbahaya di Pantai Parangtritis tampaknya tidak diindahkan sebagian wisatawan. Nyatanya, dua siswa SMK Perjuangan Bangsa Selasa (9/1) terseret gelombang tinggi. Keduanya adalah Dede Hermawan, 17, dan Sisa Rahim, 16. Beruntung, dua anak baru gede (ABG) dari Majalengka, Jawa Barat dapat diselamatkan Tim SAR Pantai Parangtritis.

Informasi yang diperoleh, kecelakaan laut ini terjadi sekitar pukul 13.00. Kala itu, dua ABG ini langsung bermain air laut setibanya di Pantai Parangtritis. Apesnya, dua ABG ini tidak mengetahui bahwa mereka bermain air di dekat palung pantai. Tak pelak, gelombang tinggi yang menyapu langsung menyeret mereka ke tengah laut.

“Sampai beberapa meter dari pinggir pantai,” jelas Komandan Tim SAR Pantai Parangtritis Ali Sutanto kemarin.

Mengetahui hal ini, beberapa personel Tim SAR yang stand by di sekitar lokasi kejadian langsung melakukan upaya penyelamatan. Kendati begitu, Ali melihat, proses penyelamatan tidak gampang. Personel Tim SAR butuh waktu hingga 20 menit untuk menyelamatkan mereka. Sebab, gelombang di kawasan Pantai Parangtritis kemarin cukup tinggi.

“Paling susah melawan gelombang. Karena arus air yang kembali ke tengah laut kencang,” ungkapnya.

Beruntung, nyawa kedua pelajar ini masih dapat diselamatkan. Menurutnya, kondisi kedua korban lemas. Itu akibat terlalu banyak meminum air laut. “Langsung kami bawa ke posko,” tuturnya.

Salah seorang anggota Tim SAR Pantai Parangtritis Catur Wibowo mengaku cukup kesulitan mengawasi perilaku sebagian wisatawan. Tak jarang mereka nekat bermain air walau berada di dekat palung. “Padahal sudah ada papan peringatan,” keluhnya.

Karena itu, Catur mengimbau, koordinator wisatawan menginstruksikan seluruh anggotanya untuk mematuhi papan peringatan bahaya yang terpasang di sejumlah titik rawan. (zam/ila/mg1)