SLEMAN – Polres Sleman menetapkan supir jeep wisata Wisnu Joko Santoso, 18, sebagai tersangka kasus kecelakaan di Pakembinangun, Sleman. Hanya, hingga saat ini belum dilakukan penahanan karena supir jeep sedang menjalani rawat jalan. Wisnu mengalami luka pada pelipis.

Kasatlantas Polres Sleman AKP Faisal Pratama memastikan status ini. Berdasarkan penyelidikan dan olah tempat kejadian perkara (TKP) disinyalir supir lalai.

Berdasarkan kronologi, supir tidak mampu mengendalikan laju kendaraan. Imbasnya Fatun Hikmah, 50, meninggal dunia.

“Belum ada penahanan, dalam waktu dekat jika sudah pulih dari rawat jalan. Belum ada fakta baru, masih kami kembangkan. Sementara ini STNK kendaraan belum ada, nomor polisi juga diragukan keasliannya,” jelasnya Selasa (9/1).

Dalam penyelidikan sebelumnya juga terungkap Wisnu belum memiliki surat izin mengemudi (SIM). Ini memberatkan, karena posisi sebagai supir kendaraan. Padahal ketentuan menjadi supir jeep wisata memiliki SIM.

Terpisah, Ketua II Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Dardiri membeberkan fakta lainnya. Berdasarkan data, Wisnu baru satu minggu menjadi supir jeep wisata. Itu pun belum menyerahkan bukti kepemilikan SIM kepada komunitas.

“Wewenang itu ada di komunitas, selanjutnya diserahkan kepada asosiasi. Belum ada data dari yang bersangkutan di asosiasi. Harusnya memang tidak boleh, apalagi belum punya SIM. Itu sudah SOP wajib asosiasi,” jelasnya.

Pendampingan sejatinya telah dilakukan oleh AJWLM. Terbagi dalam dua zonasi, Kaliurang dan Kaliadem, seluruh komunitas telah mendapat pendampingan. Hanya, diakui olehnya pendampingan belum optimal karena menyasar masing-masing ketua komunitas.

Mengenai syarat kelengkapan, helm, sabuk pengaman, dan roll bar memang wajib. Inilah yang masih menjadi catatan tersendiri bagi AJWLM. Kepatuhan tidak selamanya dijalankan oleh komunitas. Bahkan penumpang juga kerap mengabaikan sendiri keselamatannya.

“Kalau sabuk pengaman dan roll bar itu sudah syarat wajib. Tapi yang helm ini yang belum optimal. Kadang dari komunitas sendiri yang kurang merawat. Seperti helm basah karena hanya digantung, sehingga penumpang enggan memakai,” ujarnya.

Guna mematangkan keselamatan, AJWLM mendapat undangan dari Pemkab Sleman. Dalam kesempatan ini dibahas detail standar keselamatan. Termasuk pengawasan, agar aturan berlaku secara optimal.

“Pendampingan sudah rutin ke setiap ketua komunitas. Harusnya setiap ketua menurunkan kepada anggotanya. Pertemuan ini akan menguatkan kembali standar keselamatan. Mulai dari perlengkapan keamanan, rute, batas kecepatan, dan kualifikasi pengendara,” jelasnya.

Seperti diketahui, kendaraan wisata jenis Jeep Willis nopol AD 8653 V terlibat kecelakaan dengan bus Pariwisata nopol H 1427 GG. Tepatnya di kawasan jalan kaliurang Km 20, Pakembinangun, Pakem, Minggu (7/1).

“Bus yang dikendarai Adhi Nurcahyo, 61, dalam kondisi berhenti, datanglah Jeep Willis dikemudikan Joko Santoso, 18, dari arah utara ke selatan. Selanjutnya menyenggol badan bus dan terjadi kecelakaan. Kendaraan wisata diketahui membawa enam penumpang. Korban Nail Huga, 15, asal Sawah Besar Semarang mengalami patah tangan kiri sementara Fatun Hikmah, 50, asal Pati Jawa Tengah mengalami gegar otak dan akhirnya meninggal. Keempat penumpang lainnya adalah Sigit Purnama, 40, Kasmiyati, 41, dan Kusuma, 6, asal Sawah Besar, Semarang serta Puji Hadiyanti, 19, asal Pati, Jawa Tengah. (dwi/ila/mg1)