JOGJA – Tidak semua kasus perceraian mesti dijalani dengan tangis air mata. Ternyata ada juga orang yang akan bercerai justru datang dengan senyum tawa. Biasanya, yang seperti itu perceraiannya karena kehadiran pihak ketiga.

“Biasanya yang konsultasi perceraian itu datang nangis, tapi kalau datang ketawa, itu pasti karena ada pihak ketiga,” ujar Ketua Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Kota Jogja Maskur Ashari di sela audiensi dengan Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi di Balai Kota Jogja, Jumat (19/1).

Menurutnya, jika faktor pihak ketiga susah untuk didamaikan, diajak rujuk kembali. Alasannya, jelas Maskur, karena jarang bertemu atau tidak dinafkahi. “Kalau sudah ada calon pengganti, kami hanya memastikan jika dia sudah mantap dengan pilihannya,” tambah Maskur.

Tugas BP4 memang melakukan konsultasi bagi para pasangan yang mengajukan talak atau cerai. Tanpa menyebut jumlah pasti talak yang diajukan, Maskur mengklaim 30 persen di antaranya berhasil didamaikan kembali.

Masih minimnya keberhasilan mendamaikan pasangan yang hendak bercerai itu, menurut Maskur, karena saat datang sudah stadium empat. “Sudah berat sekali didamaikan, sudah pokoke. Kalau seperti itu minimal bercerai secara baik, masih ada silaturahmi, pembagian hak asuh anak, harta yang adil,” tuturnya.

Maskur mengatakan tugas yang diemban BP4 jika tidak bisa mendamaikan pasangan yang akan bercerai, paling tidak menyiapkan janda yang berkualitas dan mandiri. Maksudnya, ia mendorong perempuan yang hendak menjanda untuk menyiapkan usaha terlebih dahulu. Terutama yang sebelumnya mengandalkan pendapatan dari suami. “Paling tidak saat menjanda itu sudah punya pendapatan sendiri,” ungkapnya.

Meski memiliki tugas yang mulia, ternyata selama ini BP4 tidak didukung dengan anggaran dan ruangan yang memadai. Apalagi saat ini BP4 tidak lagi berada di bawah Kementerian Agama, sehingga tidak mendapat anggaran termasuk dari APBD Kota Jogja. (pra/laz/mg1)