JOGJA–Tahun2018 ini merupakantahun politik. Namun manajemenPerusahaan asuransi jiwa PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) meyakini,tidak akan berpengaruh pada kinerja Sun Life.Pengalaman pemilu lima tahun lalu yang sempat dibilang akan rusuh, ternyata berjalan baik-baik saja.Selain itu, mereka meyakini masyarakatIndonesia semakin dewasaatau capek dengan konflik.

Selain itu, strategi juga sudah disiapkan perusahaan ini. Optimisme besar ini berdasar padakinerja para tenaga pemasaryangsemakin solid. “Terutamadalam membantu masyarakat meningkatkan literasi terhadap asuransi jiwa, perencanaan keuangan strategis jangka panjang, dan beragam manfaat yang dihadirkan melalui layanan Sun Life,” ungkapPresiden Direktur Sun Life Elin Waty di sela-sela acara Sun Life Year Start 2018, Jumat (19/1).

Optimisme Elin itu juga didukung sejumlah strategi yang sudah ditetapkan Sun Life untuk tahun ini.Jalur distribusi keagenan akan berfokus pada perekrutan lebih masif dan aktif untuk menambah jumlah tenaga pemasar, meningkatkan jumlah agen Million Dollar Round Table (MDRT). Pihaknya juga akan melakukan ekspansi pasar dengan tetap fokus menambah jangkauan di kota lapis kedua dan ketiga.

Sepanjang 2018, rencananya Sun Life membuka kantor pemasaran di 10 kota yang terfokus di Kalimantan dan Sulawesi. Hingga akhir 2017, Sun Life memiliki 175 kantor di lebih dari 70 kota di Nusantara.

“Kami sengaja buka di kota-kota lapis kedua dan ketiga, bukan di kota besar. Sebab, persaingan di kota besar sudah sangat keras. Padahal, potensi di kota-kota kecil juga besar,”kata Elin membuka rahasia.

Tahun2017, Sun Life sudah membidik kota-kota lapis kedua dan ketiga, dan hasilnya mengagumkan.

Sepanjang 2018,Sun Lifeakan mengembangkan jalur distribusi Agency Syariah. Pihaknya fokus pada pengembangan program Wakaf sebagai salah satu unique selling point sangat potensial dan kian serius untuk dikembangkan bagi pasar Muslim di Indonesia.

Sun Lifejuga akan memperkuat jalur partnership distribution (kemitraan) lewat penambahan portofolio mitra bank untuk semakin menjangkau segmen nasabah di seluruh Indonesia. Saat ini, pihaknya sudah bekerja sama dengan beberapa bank. Seperti CIMB, Nobu, BNI, OCBC, dan akan menggandeng Bukopin.

Menurut Elin, porsi keagenan dan kemitraan tidak akan berubah. Hingga akhir 2017, kontribusi dari keagenan sebesar 58persen, sisanya dari bancassurance atau partnership distribution. Selama 2018, pihaknya tetap fokus pada dua kanal distribusi tersebut.

Acara Sun Life Year Start 2018 diselenggarakan pada 19-20 Januari 2018 di The Stones Hotel Bali dan dihadiri lebih dari 800 tenaga pemasar baik dari jalur distribusi Agency Konvensional, Agency Syariah, dan Partnership Distribution. Tema yang diangkat tahun ini adalah “The Power of Sun Lifers – Live Healthier Lives”, sejalan dengan tujuan perusahaan untuk membantu nasabah mencapai kesejahteraan melalui kemapanan finansial serta menjalani hidup yang lebih sehat.

Diamenambahkan, tahun ini perusahaan juga akan serius dan fokus pada proses digitalisasi. Komitmen ini diawali dengan peluncuran resmi aplikasi My Sun Life Indonesia di tengah penyelenggaran Year Start 2018. Melalui aplikasi mobile My Sun Life Indonesia, nasabah memiliki kemudahan dalam mengakses informasi terkait dengan polis asurasi yang dimilikinya kapan pun di mana pun dengan menggunakan smartphone.

Aplikasi yang mulai diperkenalkan untuk kali pertama pada Januari 2017, kini telah diunduh sebanyak 21.500,di mana pengguna aktif di angka 30persen. Sejak diluncurkan dalam versi mobile pada Januari 2017, My Sun Life Indonesia dilengkapi fitur-fiturinformatif. Seperti informasi dasar polis, cek nilai investasi, daftar RS rekanan, informasi klaim, informasi administrasi polis dan fitur notifikasi.

Elin mengatakan, kontribusi para tenaga pemasar profesional yang jumlahnya sekitar 10.000 orang menjadi salah satu kunci keberhasilan Sun Life pada 2017. Dari total pendapatan premi sebesar Rp 2,9 triliun, premi untuk produk tradisional mencapai Rp 565,5 miliar, tumbuh 67 persen dari tahun sebelumnya Rp 338,8 miliar. Sedangkan pendapatan premi dari unit link Rp 2,3 triliun, atau tumbuh 73 persen dari 2016 yang mencapai Rp 1,3 triliun. Beberapa tahun belakangan ini, kontribusi produk unit link jauh lebih tinggi dari tradisional atau sebesar 80 persen. Karena masyarakat melihat produk unit link lebih fleksibel dan memberikan imbal hasil yang tinggi di tengah kondisi pasar saham yang bagus. (*/hes/sam/mg1)