BANTUL – Pemerintah desa (Pemdes) Karangtengah memeras otak menuntaskan penanganan tanah longsor di wilayahnya, persisnya di Dusun Karangrejek dan Mojolegi. Sebab, longsor yang terjadi akibat siklon tropis Cempaka akhir lalu tidak hanya merusak dua rumah. Melainkan juga menimbulkan rekahan tanah sepanjang 160 meter. Parahnya lagi, lebar rekahan ini rerata 20 sentimeter hingga 50 sentimeter. Dengan kedalaman mencapai 4,5 meter.

Lurah Desa Karangtengah Sugito mengaku hingga sekarang pemdes belum berbuat apapun untuk menangani dampak siklon tropis Cempaka tersebut. Termasuk membersihkan puing-puing sisa material longsoran yang menghantam rumah Widodo dan Wahono. Pemdes masih menggodok formulasi yang tepat. Khawatirnya, bakal terjadi longsor susulan yang lebih besar.

“Karena ada rekahan tanahnya,” jelas Sugito di ruang kerjanya, Senin (22/1).

Kekhawatiran pemdes ini sangat rasional. Sebab, bila longsor susulan terjadi bakal ada empat yang terdampak. Sugito menyebut ada empat rumah warga plus gedung kesenian yang berpotensi terdampak longsor susulan ini. Lokasinya berada di bawah rekahan tanah.

“Saat ini masih ditempati,” ucapnya.

Wahono, seorang warga mengaku memboyong istri beserta anaknya ke rumah salah satu karabatnya setelah rumahnya dihantam longsor. Dia juga mengaku belum mengetahui kapan bakal membersihkan sekaligus memperbaiki rumahnya. Sebab, kondisi tebing setinggi 50 meter yang longsor akhir tahun lalu mengkhawatirkan.

“Pak Widodo juga ngungsi ke rumah saudaranya di Jogja,” katanya.

Disinggung mengenai hal ini, Pelaksana Harian Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto mengungkapkan, seluruh kepala keluarga yang terdampak longsor bakal direlokasi. “Juga jangan ditempati dulu,” imbaunya.

Guna merumuskan solusi jangka panjang, Dwi mengaku telah meminta Badan Geologi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan kajian. Hasil kajian ini pula yang bakal menentukan apakah enam rumah ini bakal direlokasi atau tidak. (zam/ila/mg1)