Sosok Joko Wuryantoro memang tidak bisa dipisahkan dari Yogyakarta. Kepala Balai Lingkungan Hidup (BLH) DIY ini memasuki masa pensiun terhitung mulai 1 Februari 2018. Meskipun begitu, dia telah memilih untuk tetap mengabdikan diri pada pembangunan Yogyakarta. Baginya membangun Yogyakarta tidak harus menjadi jajaran birokrasi semata.

Sebab, baginya Yogyakarta adalah semangat yang sudah mengakar. Pria kelahiran Ambarrukmo Sleman 8 Januari 1958 ini memiliki mimpi besar terhadap Yogyakarta. Dia tengah mewacanakan sejumlah rencana mulai dari sektor pembangunan fisik dan nonfisik.

“Banyak isu-isu strategis yang masih harus dikawal dan kembangkan. Tetap di pembangunan DIY pada umumnya. Seperti bandara di Kulonprogo, JJLS, pemberantasan kemiskinan termasuk isu strategis masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD),” jelasnya saat outbond dan Keakraban di Kalikuning Park, Umbulharjo Cangkringan, Jumat (26/1).

Menurutnya, menjadi kepala BLH DIY merupakan amanah besar. Baginya tugas ini tidak hanya sekadar tanggung jawab administrasi pemerintahan semata. Selain itu, bersinggungan dengan alam tentu harus memiliki kecintaan terhadap alam dan lingkungan sekitarnya.

Wujud pemenuhan ini sejatinya tertuang dalam amanat Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Salah satunya mewujudkan vegetasi sebesar 30 persen. Fokus ini juga menyinggung mengenai kebutuhan air tanah di Yogyakarta.

“Vegetasi tidak hanya bicara tentang penghijauan tapi dampak jangka panjang. Salah satunya menabung air demi kebutuhan manusia ke depan. DIY sendiri telah mengimbangi dengan keberadaan empat telaga di Kalasan, Sewon, Banguntapan, dan Kasihan. Ke depan masih ditambah sembilan lagi,” katanya.

Menurutnya permasalahan pemenuhan kebutuhan air adalah masalah yang kompleks. Pertimbangan utama, dinamika pertumbuhan penduduk di Yogyakarta tergolong tinggi. Karena itu, program BLH DIY turut menyentuh kawasan perkotaan Yogyakarta.

Kendala lain dalam pemenuhan ini adalah peralihan fungsi lahan yang cukup tinggi. Meski peralihan guna memenuhi kebutuhan publik namun tetap menjadi catatan. Setidaknya peralihan tidak menyinggung lahan-lahan produktif dan kawasan hijau.

“Jadi untuk menabung air dalam tanah ini tidak hanya menjadi tugas kabupaten saja. Untuk kawasan perkotaan ini juga melibatkan enam kecamatan di Sleman dan tiga kecamatan di Bantul. Harus sinergis karena pertumbuhan di perkotaan memang lebih pesat,” ujarnya.

Mengawali dunia birokrasi, bapak dua anak ini menjadi staf di Peninggalan Sejarah Purbakala DIY pada medio 1984. Kala itu dia fokus pada perawatan Candi Ijo dan Candi Barong. Berlanjut di Kanwil Departemen PU sebagai Bidang Pembangunan SMA.

“Ternyata saya juga diterima di pemerintah daerah dan pada penempatan PU juga. Atas pertimbangan matang saya memilih untuk membangun Yogyakarta dan bergabung dengan PU Yogyakarta,” kenangnya.

Memasuki medio 1996, Joko ditugaskan sebagai Kasi Transportasi Pariwisata Bappeda DIY. Setelahnya kembali ke Dinas PU dalam bidang Cipta Karya. Joko lalu ditugaskan kembali di Bappeda DIY pada 2001 dalam bidang Penyusunan Program.

Lalu biro penyusunan program gabung Bappeda 2001. Pada medio 2003 Joko kembali dipercaya bergabung dengan Dinas PU, hingga akhirnya pada 2007 menjadi Kabid Perumahan. Karir Joko meningkat pada 2011 sebagai Kepala Biro Administrasi Pembangunan Pemprov DIY.

“Lalu dipecaya di BLH DIY hingga saat ini. Pengalaman tersebut menjadi tabungan penting menguasai administrasi pemerintahan. Terpenting adalah koordinasi yang baik antara pimpinan dan jajarannya,” ujarnya.

Baginya sosok pemimpin harus ajur-ajer. Artinya pemimpin harus bisa memahami setiap bawahannya. Selain ketegasan juga perlu pendekatan yang optimal. Tujuannya untuk mencapai produktivitas kerja pemerintahan.

“Kalau merasa tidak nyaman dan lingkungan tidak kondusif maka tidak bisa produktif. Membangun komunikasi yang bagus antara pimipinan dengan bawahan itu penting. Memahami karakter jajarannya untuk memudahkan komunikasi yang efektif,” katanya.

Di luar sisi birokrasi, Joko memiliki hobi yang unik. Pria berusia 60 tahun ini memiliki hobi bersih-bersih. Baginya bersih itu adalah budaya yang harus dilestarikan. Hobi unik tersebut tidak hanya diterapkan di rumah tapi juga di kantor.

Pemahaman tentang vegetasi tanpa diimbangi dengan aksi tentu tak seimbang. Salah satu pemikiran unik darinya adalah pohon nangka. Yogyakarta, lanjutnya, adalah kota kuliner gudeg. Akan terasa aneh jika ketersediaan bahan baku nangka justru datang dari luar Yogyakarta.

“Mungkin bisa dibilang rumah yang punya banyak pohon nangka hanya rumah saya. Yogyakarta itu kuliner khasnya gudeg tapi saya tidak tahu bahan bakunya dari mana. Jadi kalau memang memproklamirkan kota gudeg harusnya memang mandiri nangka,” ujarnya diselingi tawa. (dwi/din/mg1)