Berbekal hasil-hasil penelitian yang telah dilaksanakan, Fakultas Teknologi Mineral (FTM) Institut Sains & Teknologi Akprind (IST Akprind) Jogjakarta tahun akademik 2017/2018 mengembangkan kawasan wisata edukasi kebumian dan penanggulangan bencana geologi. Hal itu sejalan dengan road map Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IST Akprind.

Dekan FTM IST Akprind Jogjakarta Dr Sri Mulyaningsih mengatakan, pengabdian kepada masyarakat dilakukan bekerja sama dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia Pengda Gunungkidul. Hal ini ditindaklanjuti dengan pelatihan singkat mengenai geologi daerah Pantai Wediombo, 13-15 Oktober 2017. Kegiatan ini diikuti dengan pemasangan papan informasi geologi dan edukasi wisata geologi gunung api di Gunung Ireng, Desa Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, 22 Oktober 2017.

Kegiatan selanjutnya, pengembangan konservasi geologi dan bencana geologi di Bukit Giriloyo (Gunung Sudimoro), Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, yang sosialisasinya dilaksanakan sejak Oktober 2016 hingga Desember 2017. Kegiatan geokonservasi itu dimulai bulan Januari 2018 hingga 2019.

“Kegiatan penanggulangan dan mitigasi bencana geologi gunung api ini juga merupakan agenda besar FTM, yaitu analisis gerakan massa di Desa Terbah, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul,” kata Mulyaningsih.

Ia mengakui wilayah DIJ dilingkupi suatu perbukitan dan pegunungan dengan kondisi geologi gunung api khas masa lampau (purba) hingga masa kini dengan keindahan geomorfologi pegunungan selatan, pegunungan Kulonprogo dan Gunung Api Merapi. Daerah ini dicirikan oleh topografi perbukitan, berlereng miring sedang, hingga sangat curam dan memiliki pola pengaliran paralel, subtrelis-subdendritik, yang terbentuk oleh proses geologi gunung api masa kini, gunung api purba bawah laut, yang telah terangkat oleh tektonisme dan telah tererosi.

Di lain sisi, daerah ini juga memiliki kekayaan budaya (seperti wayang, batik, senjata keris, keraton dan lain-lain) dan kuliner seperti gudeg, bakpia dan wedang uwuh. “Nah, FTM IST Akprind berkewajiban mengelola dan mengembangkan potensi geologi sejalan dengan potensi sosial dan budaya yang dimiliki DIJ,” tandasnya.

Kondisi geologi gunung api yang sangat dinamis di wilayah DIJ ini,lanjut Mulyaninsih, telah membentuk sumber daya geologi dan lahan, serta sekaligus bencana geologi. Batuan-batuan gunung api yaitu intrusi, lava, breksi dan aglomerat yang berkomposisi andesit basaltis yang telah lapuk, yang dihasilkan aktivitas gunung api dalam waktu jutaan tahun, kini menyisakan beberapa bukit sisa kubah lava di tengah-tengah dataran gunung api, serta menyusun pegunungan selatan dan Kulonprogo.

Akibatnya, wilayah-wilayah itu mudah bergerak, seperti yang terjadi di Kecamatan Imogiri dan Pleret yang rusak parah akibat gempa bumi 27 Mei 2006. Tidak jarang, setiap musim hujan tiba, sering terjadi gerakan massa, yaitu longsoran, jatuhan batuan, nendatan dan rayapan, terutama di sepajang lereng Pegunungan Kulonprogo dan pegunungan selatan. Kondisi geologi itu sangat tidak aman bagi masyarakat yang tinggal atau yang sedang berada di dalamnya.

Dalam rangka penanganan bahaya geologi itu, FTM IST Akprind bekerja sama dengan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul menyusun rencana teknis geokonservasi yang disejalankan dengan geowisata. (laz/mg1)