Sebagian warga berusaha melihat melalui teropong (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

JOGJA – Harapan masyarakat Jogja untuk menyaksikan fenomena langka gerhana Super Blue Blood Moon pupus. Sesuai prakiraan Stasiun Klimatologi BMKG DIJ, wilayah Jogjakarta diguyur hujan saat fenomena gerhana bulan terjadi. Awan mendung menutupi langit Jogjakarta.

Sejak sore, wilayah Kota Jogja diguyur hujan yang cukup lebat. Hujan baru berhenti sekitar pukul 18.45. Sementara itu, langit di Kota Jogja tampak berwarna putih kecokelatan.

Pantauan Radar Jogja di kawasan Tugu Jogja, yang kerap dijadikan lokasi untuk menyaksikan fenoma langit, tidak seramai biasanya. Sekitar pukul 19.00 rintik yang mengguyur membuat warga yang ada lebih memilih berteduh di emperan toko yang ada di sepanjang Jalan Margo Utomo.

Beberapa warga, ada yang memilih beringsut ke Tugu Jogja untuk berfoto bersama. Warga yang ditemui Radar Jogja, di kawasan Tugu, tampaknya tidak terlalu peduli dengan fenoma gerhana bulan.

“Niatnya mau foto bersama Tugu, syukur-syukur bisa melihat gerhana dari Tugu. Tapi kondisinya mendung seperti ini tampaknya tidak memungkinkan menyaksikan gerhana,” kata Rio Febrianto, 39, warga Kebumen, Jawa Tengah yang tengah berlibur ke Jogja.

Pengunjung lainya, Witra Agung, 25, warga Klitren, Jogja menyayangkan fenoma langka itu tidak bisa dilihat dari Jogja dikarenakan mendung.

Warga Kota Jogja dan sekitarnya harus menunggu hingga 28 Juli 2018 untuk kembali menyaksikan gerhana bulan total. “Masyarakat yang belum bisa melihat langsung gerhana bulan malam ini bisa menunggu 28 Juli nanti, akan terjadi lagi gerhana bulan total,” tandas Ketua Jogja Astro Club (JAC) Agung Laksana saat melakukan pengamatan di halaman Masjid Gede Kauman tadi malam.

Menurutnya, pada 28 Juli nanti akan kembali terjadi gerhana bulan total, hanya waktunya yang terjadi pada tengah malam. Agung mengatakan, JAC sebenarnya menyiapkan empat teropong yang bisa digunakan untuk melihat gerhana bulan total. Tapi karena mendung, empat teropong tersebut gagal menembus mendung.

Sebagai gantinya JAC mengenalkan aplikasi Stellarium mobile, sky map, atau skywalk yang dipasang di gadget. Meski hanya berupa gambar simulasi bulan, masyarakat tetap antusias mengarahkan gadget-nya ke arah bulan. “Aplikasi itu untuk melihat posisi benda di langit saat itu juga, real time,” ungkapnya.

Selain melalui aplikasi, masyarakat yang gagal melihat langsung gerhana bulan total digantikan dengan melihat streaming dari NASA di Masjid Gede Kauman setelah pelaksanaan Salat Gerhana. “Aktivitas ini juga sebagai edukasi tentang benda di langit,” tuturnya.

Sementara itu, di beberapa masjid diadakan Salat Gerhana. Tak hanya di Masjid Gede Kauman saja, para santri Muhammadiyah Boarding School juga mengadakan Salat Gerhana di halaman sekolah. (bhn/pra/sky/ila/mg1)