SLEMAN – Mengawali 2018 PDAM Sleman langsung tancap gas dalam upaya mempercepat cakupan pelayanan pelanggan. Aselerasi program ini guna mendukung tercapainya misi 100.0.100 yang digalang pemerintah pusat. Dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Artinya 100 persen ketersediaan air bersih, 0 persen kawasan kumuh, dan 100 persen sarana sanitasi. “Prioritas kami tahun ini di sektor penyediaan air bersih bagi masyarakat dengan memasang dua ribu sambungan rumah,” ujar Direktur PDAM Dwi Nurwata SE MM Rabu (31/1).

Dwi merinci, dari dua ribu sambungan rumah tersebut terdiri atas 1.500 jaringan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan 500 lainnya reguler.

Nah, guna merealisasikan program tersebut PDAM telah menyiapkan beberapa sumber air baku. Di antaranya, air permukaan berkapasitas 50 liter per detik, yang salah satunya diambil dari sumber mata air yang dikelola di reservoar Pendekan, Berbah. Selain itu masih ada kapasitas idle sebagai cadangan 50 liter per detik.

Sementara untuk mengkaver masyarakat bagian barat Kabupaten Sleman PDAM memanfaatkan suplai air jaringan SPAM regional dari sistem Kebonagung di Seyegan. Adapun jaringan ini untuk melayani masyarakat yang tersebar di empat wilayah kecamatan. Yakni Sleman, Ngaglik, Mlati, dan Depok. Jaringan SPAM regional tersebut saat ini sudah sampai kawasan Desa Trimulyo, Sleman. Reservoar pengolahan air akan dibangun di desa ini dengan kapasitas 100 liter per detik. Didukung reservoar Kronggahan berkapasitas 50 liter per detik.

“Meski di wilayah Sleman memiliki banyak embung di berbagai lokasi kami justru belum memanfaatkannya. Karena kebutuhan air masyarakat masih bisa dicukupi dengan sumber-sumber yang kami kelola saat ini,” tuturnya.

Sementara terkait kebijakan Pemkab Sleman tentang rencana alih status pelayanan pelanggan PDAM Kota Jogja yang berdomisili di wilayah Sleman, Dwi memastikan kesiapannya. Baik secara teknis, jaringan, maupun ketersediaan air. Dwi menyebut ada sekitar 7 ribu warga Sleman yang saat ini menjadi pelanggan PDAM Kota Jogja. Mereka tersebar di kawasan Jalan Kaliurang, seputaran Gemawang di Jalan Monjali, dan sebagian Jalan Magelang. “Ini terjadi karena PDAM Kota Jogja lebih dulu ada daripada PDAM Sleman. Jadi sebelum ada PDAM Sleman mereka dilayani PDAM Kota Jogja,” ungkapnya.(**/yog/mg1)