SLEMAN-Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda DIJ berhasil membongkar enam kasus penyalahgunaan narkotika jenis shabu selama Januari ini. Dari keseluruhan kasus tersebut tertangkap 14 pelaku. Dari jumlah itu, tujuh di antaranya menjalani rehabilitasi.

Wadir Resnarkoba Polda DIJ Baron Wuryanto mengungkapkan, para pelaku seluruhnya merupakan penyalahguna. Jumlah kasus tersebut belum terhitung bersama jajaran Polres Kabupaten/ Kota Jogja. Sehingga dia memrediksi kasus narkotika jenis shabu masih mungkin bertambah. “Modus pembeliannya masih menggunakan sistem putus. Menghubungi lewat pesan singkat bahkan bisa dibilang tidak pernah bertatap muka. Saat sudah transfer lalu ambil barang di titik tertentu melalui arahan penjual,” jelasnya saat pengungkapan kasus di Mapolda DIJ, Rabu (31/1).

Baron mengungkapkan para pengguna memanfaatkan celah hukum. Transaksi narkotika tidak melebihi berat 5 gram guna menghindari beratnya jerat hukum. Di sisi lain penjualan dalam paket kecil namun kuantitas penjualan tergolong marak.

Dalam operasi medio Januari, mayoritas barang bukti shabu seberat 0,5 gram. Seluruhnya merupakan pengguna dan tidak tergolong sebagai pengedar. “Empat orang direhab, dan tiga orang lagi sedang proses rehab. Untuk satu gram shabu harganya Rp 1,2 juta,”ujarnya.

Menurutnya, hingga saat ini Jogjakarta, belum menjadi rujukan bandar besar. Paket-paket besar lebih sering mampir di luar kawasan Jogjakarta. Kasus paling sering adalah masuk melalui Magelang dalam paket kecil. Diduga pengedar terlebih dahulu memecah dalam jumlah kecil di kawasan Magelang.

Baron mengungkapkan setiap peredaran terpantau hingga Mabes Polri. Dalam pantauan itu pula nama Jogjakarta relatif aman. Meski begitu dia tidak ingin lengah. Terlebih paket-paket kecil masih kerap menyerbu Jogjakarta dari berbagai arah.

Dalam ungkap kali ini pengguna paling tua berusia 50 tahun atas inisial YI warga Danurejan Kota Jogja,” jelasnya. Rata-rata pengguna ini mengaku untuk menambah stamina saat bekerja. Profesinya wiraswasta bahkan ada yang tukang las hingga tukang parkir.

Kabid Humas Polda DIJ AKBP Yulianto meminta warga lebih peduli. Maraknya penyalahguna narkotika karena pengawasan lingkungan lengah. Dalam ungkap kasus kali ini, didominasi oleh usia produktif. Beberapa di antaranya tersandung kasus karena godaan lingkungan.

“Mereka ini sebenarnya malu terekspose seperti ini. Harusnya memikirkan dampak bagi keluarganya juga di lingkungan masing-masing. Setidaknya bisa mencegah dari awal, rehabilitasi sebelum berlanjut penyalahgunaannya,” ujarnya. (dwi/din/mg1)