(ADI DAYA PERDANA/Radar Jogja)

MUNGKID – Ancaman bencana tanah retak di kawasan Perbukitan Menoreh semakin nyata. Rasa kekhawatiran warga Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, tidak bisa dibendung. Secara gotong royong, warga sekitar merobohkan rumah karena khawatir retakan tanah semakin melebar.

Dari pemantauan alat early warning sistem (EWS) manual dari kayu dan bambu, pergerakan tanah semakin jelas. Dari sepekan silam, pergerakan tanah 1-2 cm kini menjadi sekitar 10 cm. Tidak hanya mengancam rumah warga, tanah retak juga menyasar jalan alternatif Salaman-Borobudur via Ngargoretno.

Tanah retak diketahui terdapat di dua titik. Pertama di sekitar rumah salah seorang warga Dusun Selorejo Tugiran, memanjang sekitar 100 meter. Tanah bergeser sekitar 15 cm, dan amblas 17 cm. Retakan yang lainnya muncul di ruas jalan alternatif membentuk huruf U, memanjang sekitar 40 meter.

“Semakin hari tanah semakin larut. Rumah samping saya ada kandang kayu, kondisinya semakin miring. Akhirnya saya bongkar,” kata Tugiran Rabu (31/1).

Jika hujan turun, ia merasa khawatir karena tanah retak bisa semakin melebar. Saat di rumah bersama istrinya Winarsih, dan dua anaknya Dwi Setiawan, Yoga Nihayatu, 11, merasa was-was. Tugiran terpaksa mengamankan keluarganya ke tempat yang tidak rawan bencana.”Kalau hujan, istri saya amankan. Kalau saya sendiri memantau lokasi,” jelasnya.

Selain membongkar kandang kayu, ia juga menurunkan genting dapur rumahnya bersama warga lain. Pembongkaran sengaja dilakukan untuk mengamankan barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Ia khawatir tiba-tiba retakan semakin melebar, akan merobohkan dapur rumahnya.

“Tiang dapur selama sebulan terakhir sudah amblas sekitar 7 kali. Saya angkat lagi dan saya ganjal tiangnya sampai 7 kali. Terasa banget retakan tanahnya,” ungkapnya.

Retakan tanah itu menyasar pintu dapur dengan panjang sekitar 5 meter dan lebar 7 cm. Saking khawatirnya, ketika hujan pintu rumahnya dibuka untuk memudahkan berlari.”Kalau hujan saya khawatir. Saat tengah malam saya ke sana ke mari untuk mencari posisi aman,” urai Tugiran.

Kadus Selorejo, Desa Ngargoretno Samsudin, 51, mengungkapkan warga merasa khawatir jika terjadi longsor. Warga tidak mengungsi karena memang tempat tinggal yang dimiliki hanya di situ. Selain rumah Tugiran, tanah retak juga mengancam ruas jalan Salaman-Borobudur.

Sebagai upaya antisipasi, warga bergotong royong menurunkan genting dua bangunan milik warga. Pertama dapur milik Tugiran dan rumah lain, tempat produksi pupuk. Pembongkaran dilakukan karena khawatir terjadinya tanah longsor dan merusak berbagai barang penting.

“Harapannya nanti bisa mengantisipasi bencana dengan bantuan dari pemerintah. Biar jalan tidak terputus,” jelas Samsudin.

Jika fenomena pergerakan tanah tidak segera ditanggapi serius, retakan tanah bisa semakin melebar. Bahkan jika tanah terus bergerak semakin mengancam aliran air sungai di bawah retakan. Material tanah menutupi sungai dan air meluap ke kawasan pemukiman penduduk.

“Bahaya, material tanah bisa sampai menutup dua sungai dengan lebar 5 meter dan 3 meter. Jika tertutup material, maka airnya meluap ke pemukiman penduduk,” kata Soim, Ketua Komunitas Relawan Garuda Bukit Menoreh.

Ia sudah melaporkan kondisi tanah retak ke Pemkab Magelang. Rencananya, kawasan bencana tanah retak akan dipasangi EWS. Namun demikian, hingga kemarin belum ada tanda-tanda petugas mau memasang EWS.”Retakan tanah mengancam 18 rumah dengan 75 jiwa. Di antara mereka ada anak-anak dan lansia,” ungkap Soim. (ady/laz/mg1)