BANTUL – Danu Prasetyo, 22, tersangka pembunuhan terhadap Sunaryo, 65, yang tak lain ayah kandungnya sendiri akhirnya buka suara. Hati pemuda asal Dusun Panjangjiwo, Patalan, Jetis ini luluh setelah dijenguk ibunya, Halimah.

Pemuda penderita epilepsi sejak kecil yang semula diam seribu bahasa ini mengaku nekat menghabisi nyawa ayahnya lantaran kesal.

Kepada penyidik, tersangka bercerita, Minggu malam (28/1) sempat cekcok dengan ayahnya. Itu buntut dirinya dilarang keluar rumah oleh ayahnya. Dia diminta untuk menonton televisi di rumah. Kekesalan tersangka memuncak ketika Selasa dini hari (30/1) dia diminta mematikan televisi atau sehari setelah perintah duduk manis di rumah.

“Kesal karena awalnya diminta menonton televisi kok malah disuruh mematikan,” jelas Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Anggaito Hadi Prabowo di Mapolres Bantul, Kamis (1/2).

Dari pengakuan ini pula, tersangka kalap ketika ayahnya tidur terlelap. Tersangka menghujamkan ujung bambu bekas kandang ayam ke mulut ayahnya hingga beberapa kali.

Kendati begitu, kondisi korban yang sudah terkapar tak lantas membuat tersangka menyesal apalagi iba. Sebaliknya, tersangka justru kembali membabi buta. Tersangka kembali memukuli wajah dan bagian tubuh korban. Kali ini dengan bongkahan batu. “Tidak ada perlawanan,” ucapnya.

Guna memastikan kondisi kejiwaan tersangka, polisi sempat memeriksakannya ke RS Bhayangkara. Sayang, salah satu rumah sakit di DIJ tak memiliki psikiater khusus. Karena itu, polisi berencana memeriksakannya di RSJ Ghrasia Pakem, Sleman hari ini.

Sebagaimana diketahui, Sunaryo ditemukan tewas terkapar di kamar tidurnya Selasa (30/1). Saat ditemukan, kondisi pria yang berprofesi sebagai tukang tambal ban ini mengenaskan. Dia tergelatak di samping kasur dengan luka-luka lebam di bagian wajah dan kepalanya. Usut punya usut, pelaku pembunuhan sadis ini adalah anak sulung korban.

Sejak 2012 tersangka dan korban tinggal satu atap. Persisnya di Dusun Panjangjiwo, Patalan, Jetis. Istri korban bernama Halimah memilih tinggal di Lampung. Sembari menunggu masa pensiun bekerja di pabrik gula di Lampung. Adapun anak kedua korban tinggal bersama neneknya di Imogiri. (zam/ila/mg1)