SLEMAN – Razia terhadap pelajar kembali digencarkan oleh jajaran Polres Sleman. Razia ini dilakukan sebelum dan usai jam kegiatan belajar mengajar berlangsung. Sasarannya, siswa yang keluyuran saat jam pelajaran berlangsung. Termasuk siswa yang membawa kendaraan sendiri hingga isi handphone mereka.

“Razia terus berlangsung. Kami lakukan pembinaan kepada siswa yang kedapatan membawa kendaraan. Rata-rata belum cukup usia bahkan belum mempunyai SIM,” jelas Wakapolres Sleman Kompol Heru Muslimin Kamis (1/2).

Dia mengakui, mayoritas pelanggaran yakni siswa yang membawa kendaraan bermotor. Padahal dari segi usia, mereka belum layak mengendarai motor.

Heru menuturkan, pembinaan tidak hanya melibatkan jajaran kepolisian. Pihaknya juga mengundang para guru sekolah yang bersangkutan. Adanya keterlibatan guru, menurutnya, akan lebih optimal. Pertimbangannya memiliki kedekatan dengan siswa dan paham aturan internal sekolah.

“Baru sebatas teguran lisan saja agar tidak mengulang kembali. Kami juga mengimbau orang tua untuk lebih peduli, kaitannya dengan keselamatan anak di jalan. Alangkah baiknya orang tua mengantar sendiri anaknya ke sekolah, bukan membiarkan membawa kendaraan sendiri,” ujarnya.

Program yang masuk dalam tim Razia Jalanan dan Patroli Wilayah tertentu (Rajawali) ini telah diterapkan sejak beberapa waktu lalu. Untuk mengoptimalkan kinerja, tim dibentuk dalam dua bagian, timur dan barat.

Operasi ini bersanding dengan operasi Binakusuma. Fokus dari operasi tersebut menanggulangi masalah preman dan lainnya. Menitikberatkan kepada razia-razia yang ada di sekolahan sebelum jam pelajaran. Pemberlakukan merata di seluruh jajaran Polres Sleman.

Disamping kepolisian, jajaran Kodim 0732/Sleman juga melakukan koordinasi. Kepala Staf Kodim (Kasdim)0732/SlemanMayor Inf Y. Totoksiap berkoordinasi dengan Polres Sleman. Pihaknya mendorong jajaran Koramil mendata potensi kerawanan masing-masing wilayah.

Penertiban, lanjutnya, salah satu wujud meminimalkan gangguan keamanan dan ketertiban di Sleman.

“Adanya kegiatan sweeping itu bukan untuk menakut-nakuti siswa, tapi menjaga etika sebagai sosok pelajar. Razia ini dilakukan oleh lintas lembaga di Sleman, bahkan turut melibatkan Dinas Pendidikan,” katanya. (dwi/ila/mg1)