PURWOREJO-Pengembangan madu lebah di kecamatan Kaligesing masih sebatas budidaya biasa yang dilakukan warga masyarakat. Padahal keberadaannya bisa ditingkatkan maksimal karena ketersediaan pakan lebah yang mencukupi.

Dengan konsep pengembangan yang lebih baik lagi, potensi madu Kaligesing diyakini bisa lebih mengilap dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. “Kami mendapat undangan dari pemerintah provinsi Jawa Tengah untuk melihat budidaya madu lanceng di Magelang. Saya teruskan ke teman-teman pembudiaya yang ada untuk bersama berangkat kesana melihat dari dekat dan mendapat respon yang biak,” kata Sapto Pamungkas, pendamping desa di Kecamatan Kaligesing.

Sapto membawa rombongan melakukan metode Amati Tiru Modifikasi (ATM) ke Desa Kebonrejo, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, Kamis (1/2). Mereka melihat dari dekat proses pembudiayaannya diharapkan pola yang ada bisa dilakukan di Kaligesing dengan berbagai penyesuaian sesuai kebutuhan wilayah. “Memang tidak bisa langsung mengikuti apa yang sudah dilakukan seperti di Magelang. Tapi ini bisa menjadi suatu dorongan agar petani madu bisa lebih baik lagi,” imbuh Sapto.

Salah satu peserta, Imam Prayodi mengatakan adanya kegiatan itu cukup menarik minat peserta Kaligesing yang ada. Rencananya ilmu yang diperoleh akan diterapkan di tempat asal mereka. Apalagi selama ini lanceng belum dikelola dengan baik padahal selama ini keberadaannya cukup banyak di sekitar. “Ternyata luar biasa pengembangan lanceng ini. Kami selama ini menganggap remeh keberadaannya dan tidak mencoba melakukan pengembangan,” ujar Imam.

Ditambahkannya, nilai jual madu lanceng lebih tinggi dibandingkan lebah biasa. Sebagai perbandingan, harga satu botol besar lebih madu berkisar di harga Rp 100.000-110.000. Sedangkan madu lanceng bisa mencapai Rp 150.000 untuk satu botol minuman suplemen. “Dari nilai jual yang ada tentu sangat menggiurkan,” katanya.

Camat Kaligesing Bagas Adi Karyanto mengungkapkan jika pola ATM memang tengah dikembangkan pihaknya. Diharapkan dari kegiatan yang ada akan menginspirasi peserta yang ikut dan bisa diaplikasikan di tempat mereka tinggal. “Setidaknya kami sudah melakukan kegiatan ATM ini 2 kali, pertama ke

Boyolali yang mengembangkan tanaman penahan longsor dan kedua pengembangan madu lanceng di Magelang. Ke depan tentu ada banyak program lagi yang akan kita lakukan,” jelas Bagas. (udi/din/mg1)