KAYA MANFAAT – Menenristekdikti Mohamad Nasir memantau proses kerja Instalasi Sistem Pompa Air Tenaga Surya (SPATS)di Temuireng, Girisuko, Panggang, Gunungkidul Kamis (1/2). (Gunawan/radar jogja)

*Mampu Memompa Air 70 Meter Kubik Per Hari untuk 269 KK

GUNUNGKIDUL –Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM), dan Instalasi Sistem Pompa Air Tenaga Surya (SPATS) di Kecamatan Panggang, Gunungkidul akhirnya bisa kembali berfungsi. Padahal sudah lebih dari 10 tahun sistem tersebut mangkrak, sehingga tak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Gubernur DIJ Hamengku Buwono X pernah menyinggung masalah tersebut sekitar 1,5 tahun lalu. Kamis (1/2) bertepatan dengan kehadiran Menristekdikti Mohamad Nasir, SPAM dan SPATS Panggang di-relaunching.

“Ini jalan keluar untuk masyarakat dalam penyediaan air bersih,” ujar Nasir di sela peresmian SPAM dan SPATS Panggang di Desa Temuireng, Girisuko, Panggang.

Berfungsinya kembali sistem air minum tersebut, kata Nasir, berkat peran Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Nasir berharap, masyarakat ikut merawat sistem itu supaya tak rusak lagi. Dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

“Nanti dari Kementrian Desa (Kemendes) bisa membuat BUMDes untuk perawatan,” tuturnya.

Dikatakan, keberadaan sumber air yang dikelelola lewat SPAM dan SPATS Panggang mampu mendorong sektor lain seperti pertanian, peternakan, dan perikanan. Dengan tujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

NGUCUR TERUS: Menristekdikti Mohamad Nasir (tengah) mencoba air bersih dari SPAM dan SPATS Panggang. (GUNAWAN/RADAR JOGJA)

Kepala Balai Besar Tekhnologi Konversi Energi (B2TKE) Andhika Prastawa menjelaskan, sumber air yang dikelola di SPAM dan SPATS Panggang mampu untuk memenuhi kebutuhan 269 kepala keluarga di Desa Temuireng. Sistem itu digerakkan dengan teknologi pembangkit tenaga surya. “Sistem ini tiap hari mampu memompa air sekitar 70 meter kubik,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X menyampaikan apresiasi kepada Kemenristekdikti yang berhasil mengurai permasalahan air di Gunungkidul. Sebagaimana diketahui sebagian besar wilayah Gunungkidul yang terdiri atas perbukitan kapur sering mengalami krisis air bersih. Apalagi saat musim kemarau.

“Air merupakan elemen penting, sehingga keberadaan SPAM dan SPATS sangat membantu sekali,” katanya.

Kini warga tidak lagi jauh berjalan untuk mendapatkan air bersih atau membelinya dari swasta dengan harga mahal. “Semoga sistem pepengolahan air itu bisa berfungsi optimal, sehingga bermanfaat sampai anak cucu,” harap Wagub.

Bupati Gunungkidul Badingah mengungkapkan, wilayahnya sebenarnya memiliki banyak sumber air yang melimpah. Namun sejauh ini memang belum bisa dioptimalkan karena keterbatasan teknologi untuk pemanfaatannya. “Wilayah Temuireng bisa menjadi contoh dan direplikasi ke desa lain untuk mengatasi masalah kekurangan air,” ucapnya. (gun/yog/mg1)