SLEMAN – Kampus AMIKOM Yogyakarta berduka. Aprilianda Dwi Yanto, anggota baru AMIKOM Yogyakarta Pecinta Alam (Mayapala) meninggal usai mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar (diklatsar) di Jembatan Babarsari, Depok, Sleman, Rabu (31/1). Mahasiswa D3 Teknik Informatika itu mengembuskan napas terakhir di RS Hermina sekitar pukul 15.30.

Informasi yang dihimpun Radar Jogja menyebutkan, Aprilianda mengaku lemas saat mengikuti sesi rappelling-prusiking sekitar pukul 12.00. Sesi ini merupakan tahap awal dari keseluruhan diklatsar Mayapala.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan AMIKOM Yogyakarta Ahmad Fauzi mengklaim, Aprilianda meninggal karena sakit. Menurutnya, badan Aprilianda mendadak lemas saat berada satu meter sebelum menyentuh badan jembatan. Ketika itu Aprilianda tengah melakukan prusiking dari bawah jembatan setinggi 12 meter tersebut. Karena tak kuat lagi memanjat, tubuh Aprilianda lantas ditarik ke atas jembatan oleh panitia. Panitia lantas melakukan pertolongan pertama dengan memberinya tabung oksigen. Prusiking merupakan salah satu teknik memanjat dengan alat sederhana. Berupa simpul prusik untuk meletakkan tali kecil di sekitar loop carmantel, yang dikaitkan dengan dua karabiner dan 1 figure 8.

“Dia (korban, Red) sempat mendapat pertolongan pertama oleh panitia. Lalu dirujuk ke RS Sadewa, kemudian dirujuk lagi ke RS Hermina,” ungkapnya di Kampus Amikom Kamis (1/2).

Saat dirujuk ke RS Hermina, korban sempat dirawat di ruang intensive cara unit (ICU). Alih-alih membaik, kondisi Aprilianda malah terus memburuk hingga akhirnya meninggal.

Menurut Fauzi, perwakilan kampus dan panitia diklatsar sudah bertemu orang tua Aprilianda untuk menjelaskan kronologi peristiwa nahas tersebut. “Tadi pagi melayat saat dikebumikan di Sambilegi Maguwoharjo,” ucapnya.

Fauzi memastikan kegiatan diklatsar Mayapala telah berizin. Termasuk kegiatan rappellingprusiking di Jembatan Babarsari. Bahkan, sehari sebelum diksar dimulai para peserta dikarantina di kampus setempat. Saat keberangkatan, panitia juga telah menyiagakan tim medis.

Dari pemeriksaan sementara di tingkat internal, Fauzi belum melihat adanya kesalahan prosedur dalam diklatsar tersebut. “Sebelum berangkat semua peserta juga telah menjalani pemeriksaan kesehatan. Mereka semua dinyatakan sehat,” katanya.

Dengan kejadian ini kegiatan lanjutan diklatsar dihentikan sementara. Sesuai rencana, para peserta seharusnya menjalani susur gua di Gua Cermai, Imogiri, Bantul kemarin. Dilanjutkan pelatihan survival di kawasan Kali Kuning, Cangkringan, Sleman.

Radar Jogja sempat mendatangi lokasi kejadian kemarin sore. Salah seorang penjaga kolam ikan di dekat jembatan, Vendi, membenarkan ada kegiatan rappelling Mayapala. “Kegiatan berlangsung sejak pagi. Beberapa peserta berbaris dan mengenakan helm standar rappelling,” ungkapnya. Vendi tak melihat ada suara teriakan atau benda jatuh. Dia juga tak tahu ada peserta diklatsar yang meninggal dunia.

“Tidak ada yang aneh, tapi panitia memang belum nembung ke kami kalau ada acara rappelling,” bebernya. “Teman saya sempat melihat ada seorang peserta dibopong. Sepertinya kelelahan atau sakit, tidak terjatuh,” lanjut Vendi. (dwi/yog/mg1)

GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA