MUNGKID – Kekhawatiran warga di Lereng Perbukitan Menoreh akhirnya terbukti. Tanah bergerak di Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman berujung pada tanah longsor. Akibatnya, salah satu rumah warga nyaris terbawa material tanah.

Jarak tebing yang longsor dengan sudut tembok rumah hanya kurang dari satu meter. Terpaksa, dapur rumah harus dibongkar. Selain itu, tanah longsor juga menggeser aspal di ruas jalan Salaman – Borobudur, via Ngargoretno. Jika jalan ini terputus, sekitar 200 warga bisa terisolasi.

Sebagian tanah bergerak di Dusun Selorejo, Ngargoretno itu mengalami amblas, Rabu sore (31/1) sekitar pukul 16.00. Sebagian tanah telah longsor sepanjang 5 meter dengan lebar 1 meter. Posisi tanah tepat pada titik yang sebelumnya dipasang EWS elektrik sederhana. Longsor ini persis di rumah warga Tugiran.

Selain Selorejo, tanah longsor juga terjadi di Dusun Wonosuko RT 09 RW 03, Desa Ngargoretno. Longsor diawali ketika hujan dengan intensitas sedang – lebat di wilayah Salaman. Akibatnya, tebing setinggi 10 meter lebar 6 meter dengan ketebalan 1 meter longsor menutup akses jalan Desa ngargoretno menuju Kalirejo, Kecamatan Salaman. Material tanah juga mengenai rumah warga Iskandar, 40. “Dampak longsor mengenai bagian depan rumah warga yang digunakan untuk warung. Tindakan yang diambil yaitu kaji cepat Satgas PB tim reaksi cepat,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Edy Susanto Kamis (1/2).

Tanah longsor juga terjadi di Dusun Kalisat 04/06 Desa Paripurno, Kecamatan Salaman mengancam rumah Suparman, 70. Satu keluarga dengan 3 jiwa terpaksa mengungsi ke rumah Saebani, Kadus Kalisat.

Longsoran bermula tebing setinggi 50 meter dengan panjang 20 meter. Ini kemudian mengakibatkan terjadinya pergerakan dan retakan tanah, yang melintasi pada bagian belakang rumah Suparmah. Sehingga, berdampak retak dan bergesernya dinding belakang rumah tersebut.

Sedangkan jarak rumah dengan tebing yang longsor sekitar 5 meter, dengan panjang retakan 20 meter. Untuk lebar retakan 20 – 30 cm. “Peristiwa itu memunculkan adanya potensi ancaman susulan karena tanah tersebut masih bergerak dan berpotensi terjadinya longsor. Apabila terjadi hujan dengan intensitas ringan- lebat dalam durasi yang lama,” jelasnya.

Kepala Desa Ngargoretno Dodik Suseno mengatakan, desanya merupakan kawasan rawan bencana tanah longsor. Dari enam dusun yang ada, semuanya berada di kawasan perbukitan dan berpotensi tanah longsor.”Desa kami merupakan daerah rawan potensi bencana. Dari sekitar 900 KK, 60 persennya tinggal di daerah rawan,” ungkapnya.

Pergerakan tanah yang terjadi kemarin, mengancam ruas jalan penghubung Salaman – Borobudur. Bahkan jika sampai jalan terputus karena longsor, warga di Dusun Gayam, terancam terisolir. “Sebagian warga di Dusun Karangsari, Selorejo dan Gayam bisa terisolir. Ada sekitar 200 warga yang terancam. Jika sampai putus, mereka harus memutar melintasi Borobudur memutar sekitar 7 km,” ungkap Dodik.

Kades selalu mengimbau kepada warganya untuk waspada. Mengingat, di musim penghujan, potensi bencana masih terus ada. Himbauan itu disampaikan saat moment pertemuan pertemuan di masyarakat.”Selokan warga untuk dicek, karena tanah longsor pemicunya air. Saya ingatkan terus kepada warga untuk waspada,” katanya. (ady/din/mg1)