GUNUNGKIDUL – Iklim positif dunia pariwisata di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) harus diimbangi dengan mempertahankan budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat. Sebab, sekarang identitas Jogjakarta sebagai tempat wisata ‘beda dari yang lain’ sudah mulai luntur.

Hal tersebut disampaikan Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahmad Ma’ruf usai menjadi pembicara dalam draf rancangan awal rencana kerja penmerintah daerah (RKPD) 2019 di Pemkab Gunungkidul, Jumat (2/2).

“Orang pergi ke Jogjakarta itu mencari yang khas seperti logo, dusun, dan tradisionalnya. Ketika bangunan mall, hotel, sama dengan yang lain bagaimana? Sekarang jalan macet. Jogjakarta kehilangan ruh Jogja. Ruh Jogja itu seperti lagu KLA Project,” ujarnya.

Diakuinya, Malioboro memang masih memiliki daya tarik. Namun sudah jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu. Karena itu pihaknya meminta kepada pemerintah kabupaten Gunungkidul untuk menangkap potensi tersebut. “Gunungkidul itu objek wisatanya lengkap, pantai, gua, dan desa,” ucapnya.

Terlebih, rasa solidaritas masih tinggi terlihat dari interaksi bertegur sapa antara wisatawan dan warga. Modal sosial masyarakat tersebut harus tetap dijaga meski kunjungan wisata meningkat. “Saya menemukan modal sosial itu di Bantul dan Gunungkidul. Untuk itu kami terus mendorong agar terus dipertahankan. Identitas budaya masyarakat jangan digeser,” ucapnya.

Anggota Dewan Riset Daerah Kabupaten Gunungkidul ini berharap pembangunan wisata harus mempertahankan identitas daerah. Salah satunya mengawal pembangunan hotel agar melibatkan penduduk lokal. “Pemilik hotel harusnya warga Gunungkidul. Jangan seperti hotel di Jogjakarta ada sekitar 250 lokasi. Namun sebagian besar pemiliknya bukan warga asli,” bebernya.

Satu lagi, kata dia, Gunungkidul beda dengan Bali. Wilayah ujung timur Provinsi DIJ ini tidak cocok dengan keberadaan minuman keras. Tempat karaoke tidak dilarang, namun harus dipastikan bebas dari miras.

Sekda Gunungkidul Drajad Ruswandono mengatakan, pembangunan pariwisata mengacu pada visi dan misi bupati dan wakil bupati sebagai daerah tujuan wisata yang terkemuka dan berbudaya menuju masyarakat yang berdaya saing, maju, mandiri, dan sejahtera tahun 2021. “Ini sudah klop. Kami sedang mempersiapkan event berkelas internasional,” kata Drajat Ruswandono.

Ketua DPRD Gunungkidul Suharno sepakat, pembangunan pariwisata hendaknya berbasis budaya dan potensi lokal. Dengan begitu, perdampak pada perekeonomian masyarakat, penyerapan tenaga kerja lokal dan pengentasan kemiskinan terutama daerah pesisir selatan. “Juga diperlukan pembangunan sarana prasanaran jalur pariwisata serta pengembangan jaringan transportasi penghubung kawasan wisata,” kata Suharno. (gun/din/mg1)