SLEMAN-Pengurus Mahasiswa Amikom Yogyakarta Pencita Alam (Mayapala) mengklaim, Aprilianda Dwi Yanto yang meninggal saat kegiatan rappelling dan prusiking tergolong sehat dan layak. Dewan Penasihat Mayapala Azwar Ramadhan menuturkan, kondisi itu berdasarkan pemeriksaan prakegiatan Mayapala Jungle School.

Seluruh calon anggota Mayapala diperiksa kelayakan dan kesehatannya. Berdasarkan data ini pula, almarhum Dwi tidak menunjukkan penurunan kesehatan atau gejala sakit. Saat kejadian dia juga mengawasi seluruh kegiatan. Saat melakukan prusiking, Dwi sempat berhenti beberapa kali. Sempat bilang capek dan haus dan istirahat beberapa menit. “Saat lanjut dan sudah mendekati jembatan, tiba-tiba pingsan,” jelasnya di Kampus Amikom Jogjakarta, Jumat (2/2).

Pertolongan pertama langsung diterapkan kepada Dwi. Diawali dengan evakuasi menuju atas berlanjut mencopot seluruh perlengkapan prusiking. Satu kaleng oksigen sempat disodorkan sebagai bantuan pernafasan. “Bisa dibilang setengah sadar karena diajak berbicara masih merespons. Saat diberi oksigen juga menghirup meski lemah. Pingsannya sekitar jam 11.58,” ujar mahasiswa S1 Jurusan Informatika ini.

Selang beberapa menit, panitia membawa Dwi ke RS Sadewa. Hinggga tiba di rumah sakit sekitar pukul 12.15 langsung dirujuk ke instalasi gawat darurat. Akibat kurangnya ketersediaan perlengkapan, Dwi dirujuk ke RS Hermina menggunakn ambulance.

Azwar sempat mengecek surat rekomendasi pra kegiatan milik Dwi. Dalam surat keterangan tersebut dinyatakan sehat dan layak mengikuti segala kegiatan. Hanya saja ada catatan kecil berupa alergi minyak kayu putih dan riwayat hipertensi.

“Saat ditensi normal, sehingga dinyatakan layak ikut kegiatan lapangan. Bahkan sejak hari pertama, tepatnya Minggu (28/1) Dwi aktif mengikuti kegiatan. Diawali dengan karantina hingga Selasa (30/1), lalu berlanjut ke bawah jembatan Babarsari untuk praktik,” katanya.

Saat peristiwa terjadi cuaca tergolong cerah. Para peserta berjalan dari kampus pukul 07.30 dan sampai di Babarsari 08.30. Adanya kejadian ini turut menjadi catatan tersendiri bagi Mayapala. Terlebih kondisi peserta dalam kondisi sehat dan layak sebelumnya.

“Waktu prusiking sempat kasih kode jempol saat istirahat. Badannya waktu itu lemas, kelengkapan sudah sesuai pakai helm, sarung tangan dan pelindung lainnya. Tidak kejang-kejang saat pingsan atau setelah dievakuasi,” ujarnya.

Humas RS Sadewa Wardoyo membenarkan adanya penanganan terhadap almarhum Dwi. Mahasiswa Amikom ini sempat dirawat di IGD RS Sadewa. Meski status rumah sakit sebagai rumah sakit ibu dan anak, tetap melayani penanganan umum. “Memang sempat dirawat di IGD pada 31 Januari, tapi karena keterbatasan lalu dirujuk ke RS yang lebih lengkap penanganannya,” jelasnya. (dwi/din/mg1)