MENANGGAPI beberapa kasus pelecehan seksual dan kekerasan pada perempuan yang terjadi akhir-akhir ini di wilayah DIJ membuat Sosiolog Prof Koentjoro angkat bicara.

Beberapa kasus tersebut yakni tertangkapnya tersangka Rachmad Heru Nurcahyo, warga Mojosari, Playen, Gunungkidul yang meremas dada gadis berusia 19 tahun saat melintas di kawasan Hutan Tleseh. Hingga kasus percobaan pembunuhan seorang mahasiswa oleh pacarnya sendiri ke Sungai Opak di Gadingharjo, Donotirto, Kretek, Bantul. Perempuan berusia 20 tahun tersebut didorong oleh pacarnya dari ketinggian 17 meter di jembatan Kretek.

Prof Koentjoro menuturkan, ada banyak faktor pemicu pelaku melakukan tidakan melanggar norma tersebut. Menurutnya, kalau dalam aksinya pelaku melakukannya di hadapan teman-temannya, ada indikasi pelaku ingin mendapatkan pujian saja karena berani melakukan tindakan ekstrem. “Biasanya hal ini dilakukan anak-anak usia remaja,” ujarnya baru-baru ini.

Sedangkan pelaku yang bertindak sendirian, lanjut Koentjoro, faktor pemicunya adalah obsesi komposisi pikiran tentang seks yang diaktualisasikan karena merasa save tidak akan dikejar atau ditangkap.

“Dalam kasus seperti ini perempuan menjadi korban karena dianggap lemah dan tidak mempunyai keberanian untuk menuntut,” ungkapnya.

Dia menyarankan untuk para perempuan agar menghindari daerah sepi atau jangan pergi seorang diri dalam perjalanan malam.

Melihat kasus lain soal pembuangan seorang perempuan ke sungai, Prof Koentjoro juga mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan tindakan itu dilakukan.

“Kalau masalahnya adalah hamil di luar nikah ada pihak yang menuntut atau meminta pertanggungjawaban, bisa juga karena si lelaki mempunyai masalah ekonomi sehingga tidak mampu dan belum siap membawa ke pernikahan,” ungkapnya.

Dari banyaknya kasus pelecehan seksual, rata-rata pelaku merupakan remaja. Menurut Koentjoro, hal ini disebabkan masyarakat termasuk orang tua belum siap menghadapi kemajuan zaman.

Anak-anak dibutakan dengan ilmu tentang seksual sejak dini, kemudian ketika mereka sudah dewasa tindakannya malah di luar perkiraan para orang tua.

“Orang tua menganggap anak-anak belum boleh mengetahui pengetahuan seksual karena belum cukup umur, takut dosa, dan lainnya. Pikiran inilah yang menimbulkan konflik dalam diri anak-anak untuk melakukan tindakan tersebut,” paparnya.

Para orang tua juga tidak menyadari bahwa anak-anak dan remaja saat ini sudah difasilitasi sosial media, dari dunia maya tersebut mereka dapat mengakses informasi dan berinteraksi dengan orang asing yang berkaitan dengan ranah seksual.

Sehingga, lanjutnya, perlu disadari anak-anak tidak hanya perlu pendidikan di sekolah saja, namun juga pendidikan di rumah yang adalah tugas orang tuanya.

“Kalau merasa tidak mampu para orang tua ini menjadi powerless, akan sering dituntut anak-anaknya sehingga tidak dapat menghindarkan dari tindakan-tindakan yang melanggar norma,” tegasnya.

Sebelumnya, aktivis LSM Sahabat Perempuan Magelang Dian Prihatini mengungkapkan, siapa pun perempuan bisa menjadi korban. Saat kejadian bisa jadi mereka sulit menghindar. Apalagi saat harus melintasi kawasan sepi. Karena itu, melawan pelaku adalah jalan terakhir yang harus dilakukan. Dian menegaskan, untuk kasus penyamulan atau pelecehan seksual itu murni kesengajaan pelaku. Bukan karena rangsangan dengan apa yang dikenakan korbannya. ” Teriak itu upaya minimal perlawanan. Yang penting selalu waspada di mana pun berada,” katanya. (ita/ila/mg1)