PERJALANAN Bupati Purworejo ke-19 itu terhenti di usia 63 tahun. Suami dari Wakil Bupati periode 2016-2021 Yuli Hastuti itu menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjibaku dengan penyakit yang dideritanya beberapa waktu terakhir.

Banyak orang mengkhawatirkan kondisi mantan Ketua DPC Golkar Kabupaten Purworejo ini, apalagi sempat beredar fotonya tengah terbaring di tempat tidur sebuah rumah sakit dengan kondisi yang cukup mengharukan.

Ya, Kelik sempat mendapatkan perawatan dari tim dokter di RSUD dr Tjitrowardojo, upaya penyembuhannya pun dilanjutkan ke RS Bethesda Jogjakarta hingga diperbolehkan pulang.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam kunjungan kerjanya ke Purworejo pun menyempatkan mengunjungi Kelik Sumrahadi di rumahnya.

Namun, kondisi Kelik rupanya tak berangsur membaik hingga harus dilarikan lagi ke RSUD dr Tjitrowardojo lagi hingga ajal menjemputnya pada pukul 01.49, Sabtu (3/2). Pihak keluarga lantas membawa pulang jenazah sang tokoh itu ke rumah pribadinya di Desa/Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo, sebuah desa yang mengantarkannya meniti perjalanan politik di Kabupaten Purworejo.

Kelik merupakan sosok yang membawa spirit, motivasi, dan potret sebuah kerendahhatian yang patut dicontoh oleh pribadi lain. Kelik adalah tokohnya Purworejo.

Anggota DPRD Kabupaten Purworejo dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Toha Mahasin mengaku sangat kehilangan. Dalam pandangannya, Kelik adalah sosok yang punya watak pamomong, kharismatik, dan sangat disegani oleh kawan maupun lawan politiknya.

“Pola hidupnya sangat sederhana. Sangat inspiratif, bisa memantulkan keteladanan sebagai tokoh dan pemimpin bersahaja,” ujar Toha Mahasin.

Sebagai seorang pemimpin, lanjutnya, Kelik adalah tokoh yang bisa ngayomi dan ngayemke masyarakat, terutama kawula alit. Kelik bisa tampil sebagai pemersatu berbagai komponen masyarakat yang ada di Kabupaten Purworejo.

“Dia sangat cocok sebagai pemimpin karena bisa menjadi stabilitator dan pemersatu,” katanya.

Lain halnya dengan Angko Setyarso Widodo. Sosok Angko kerap dinilai berseberangan degan kelik. Angko yang berdiri di bawah payung Partai Demokrasi Indonesia (PDI) itu kerap memiliki perbedaan pendapat dengan Kelik yang memimpin roda Partai Golkar. Namun hal itu hanyalah perdebatan politik yang tidak sampai kepada hubungan pribadi.

“Kelik itu sosok manusia yang hidup sederhana. Dia biasa melakukan ritual Jawa dan aneka kehidupannya (pola Jawa),” jelas Angko.

Itulah yang selalu membuat Angko Setyarso Widodo tetap salut, karena Kelik tetap bisa menjalankan pola hidup Jawanya meskipun perkembangan zaman terus bergerak dan bergeser. Dan nyatanya, banyak kemanfaatan yang dibawa sehingga keberadaan Kelik tetap dinanti banyak pihak.

“Saya punya kenangan menarik dengannya, saat Pilkada Purworejo 2000 yang pemilihannya dilakukan di DPRD. Ada tiga orang calon bupati yaitu saya, Marsaid, dan Agus Bastian. Dis itu, DPRD menetapkan jika ketiga calon itu siapapun yang terpilih, wakilnya tetap Kelik Sumrahadi,” imbuh Angko.

Bupati Purworejo Agus Bastian pun tidak bisa menutupi rasa dukanya. Dia tidak selesai memberikan kata-kata saat melepas keberangkatan Kelik Sumrahadi ke tempat peristirahatan terakhirnya. “Saya sangat kehilangan tokoh panutan, Pak Kelik ini,” kata Bastian.

Menurutnya, telah banyak yang telah diberikan seorang Kelik Sumrahadi bagi Purworejo di berbagai bidang. Bastian meminta kepada seluruh warga untuk bisa menjaga motivasi dan harapan dari Kelik bagi Purworejo ke depan. (ila/mg1)