CURAHAN HATI: Azkia Zahra Nabilla dan Azkia Dias Sayyidah membentangkan kertas berisi curahan hati mereka. (SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

SLEMAN – Doa Azkia Zahra Nabilla, 11, dan Azkia Dias Sayyidah, 10, yang meminta agar ibunda mereka, Endah Asmarawati, dibebaskan dari segala tuduhan akhirnya terkabul (baca Radar Jogja 1 Februari). Kasus yang dialami oleh Endah ini memang tergolong unik dan mendapatkan perhatian banyak orang.

Endah dituduh menggelapkan uang suaminya sendiri, Dio Ahmad Zaenuddin (DAZ), sebesar Rp 200 juta. Dia lantas dipidanakan, padahal keduanya masih terikat perkawinan yang sah sebagai suami istri.

Sebelumnya, menurut salah satu kuasa hukum terdakwa Tris Pratikno SH mengatakan, pelapor DAZ menuduh istrinya sendiri menggelapkan uang deposito yang diinvestasikan ke koperasi tempat di mana istrinya bekerja. Padahal, terdakwa Endah menggunakan bunga deposito itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama biaya sekolah anak.

Senin (5/2), persidangan kepada terdakwa Endah berakhir antiklimaks. Kasus unik yang menjeratnya dihentikan oleh Pengadilan Negeri (PN) Sleman. Putusan majelis hakim yang dipimpin Aris Soleh Effendi menyatakan Endah bebas tanpas syarat. Makin unik, berhentinya kasus ini justru atas pencabutan gugatan oleh DAZ.

Endah akhirnya bebas setelah ditahan selama lebih dari 80 hari.Namun, putusan itu membuat Endah meradang. Ibu dua anak itu merasa dizalimi oleh suaminya sendiri.

Usai persidangan, Endah memburu jawaban dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hanifah. Meski bebas, dia justru mempertanyakan keputusan tersebut. Endah mempertanyakan pertimbangan keputusan tersebut. Endah justru ingin proses hukum berlanjut hingga keluar putusan.

“Saya sudah ditahan hampir tiga bulan di Lapas, tiba-tiba dihentikan. Inginnya berlanjut hingga putusan keluar. Sudah siap apapun hasilnya, bukan ditangguhkan seperti ini,” ujarnya seusai persidangan di PN Sleman, Senin (5/2).

Jauh sebelum persidangan, sejatinya Endah telah mengajukan penangguhan. Sayangnya permintaan tersebut ditolak. Keputusannya untuk lanjut berpegang teguh pada keyakinan dia 100 persen tidak bersalah.

Endah merasa heran sejak proses penyidikan. Dia bahkan menduga ada persekongkolan antara penyidik Polsek Mlati dan Kejaksaan Negeri Sleman. Penangguhan dua kali olehnya ditolak, sementara penangguhan oleh DAZ dikabulkan.

Endah juga mengaku heran dengan kasus yang menimpanya. Endah menuturkan, sudah mencari keadilan dan meminta pendapat hukum dari berbagai kalangan. Bahkan sebelum ditahan, dia sudah bertanya ke mana-mana apakah kasus ini bisa dilanjutkan.

“Saya sudah tanya ke jaksa senior, juga ke Ombudsman, jawabannya sebenarnya tidak bisa disidangkan. Ranahnya keluarga, katanya tidak bisa dikasuskan. Kenapa cuma di Polsek Mlati yang bisa? Ini kasusnya aneh,” ucapnya sembari terisak dan memeluk dua putrinya yang menyambutnya di persidangan.

Awalnya Endah dijerat pasal 376 KUHP tentang Penggelapan. Dalam ranah ini sejatinya produk hukum tidak bisa diterapkan. Pertimbangannya keduanya berstatus suami istri, artinya dalam keluarga tidak ada istilah penggelapan.

Selama menjalani persidangan, kedua buah hatinya Azkia Zahra Nabila dan Azkia Dias Sayyidah diasuh oleh neneknya, Kamsida Riyana, 66. DAZ tidak memberikan uang saku, bahkan saat menikah tidak memberikan nafkah secara layak.

Putri sulung terdakwa Azkia Zahra Nabila juga meluapkan emosi atas perlakuan ayahnya yang juga pelapor. “Saya ingin ayah dihukum,” kata Azkia.

Penasehat hukum terdakwa Suraji Noto Suwarno juga mempertanyakan putusan hakim. Dia menuturkan, menerima fakta persidangan yang ada, meski menyesalkan majelis hakim tidak mempertimbangkan faktor penahanan Endah yang sudah 80 hari lebih.

Di sisi lain dia juga membeberkan terkait pencabutan laporan. Laporan kasus ini sendiri masuk ke Polsek Mlati 26 Agustus 2017, selanjutnya pada 29 Agustus 2017 dicabut oleh DAZ. “Tiga hari setelah dilaporkan langsung dicabut tapi oleh penyidik justru dilanjutkan hingga P21 tahap dua. Bahkan berlanjut hingga ke pengadilan. Hingga akhirnya permohonan pencabutan dikabulkan pada 31 Januari,” jelasnya.

Saat ditanya untuk menggugat balik, Suraji tengah mempersiapkan. Hanya, masih menunggu salinan putusan dari majelis hakim. Setelahnya dia dan tim akan mengkaji hasil putusan tersebut. Termasuk menyusun gugatan terkait keputusan tersebut.

“Akan melakukan upaya hukum secara perdata, menunggu salinan resminya dulu untuk dikaji dan analisis apakah sesuai dengan peraturan perudangan yang berlaku,” ujarnya.

Terpisah, JPU Kejari Sleman Hanifah mengaku hanya menerima limpahan penyidik. Secara tidak langsung dia juga membenarkan terdakwa seharusnya mendapat penangguhan.

“Kami juga sempat ingin mengabulkan penangguhan penahanan, tapi pimpinan berkata lain karena pertimbangannya jaksa penyidik juga menahan. Intinya sekarang akan melaksanakan penetapan hakim,” katanya. (dwi/sky/ila/mg1)