JOGJA – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan pemerintah tidak akan mengimpor jagung untuk pakan ternak. Impor diberlakukan untuk jenis jagung yang tidak diproduksi di Indonesia.
“Tidak ada satu bonggol jagung (untuk pakan ternak.red) pun saya impor,” tegas Enggartiasto usai pembukaan Sidang Komite Perundingan Perdagangan kemarin (6/2).
Dia mengatakan, izin impor dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan industri. Kemendag telah menerbitkan persetujuan impor (PI) jagung sebanyak 171.660 ton untuk kebutuhan industri dalam negeri bagi lima perusahaan pemilik Angka Pengenal Importir Produsen (API-P).
Jumlah tersebut, merupakan kebutuhan jagung industri yang ada di Indonesia. Jagung kebutuhan industri, selama ini tidak tercukupi dari hasil dalam negeri.
“Kalau tidak impor, tidak ada pasokan. Kalau tidak dikasih ya mereka pindah pabriknya,” ungkapnya.
Kebijakan impor, menurutnya, semata-mata untuk menjaga kondisi industri di dalam negeri.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tri Saktiyana mengaku belum mengetahui secara detail impor jagung yang dilakukan pemerintah pusat.
“Detailnya seperti apa saya belum tahu,” kata Tri.
Tri mengungkapkan, keperluan jagung di Jogjakarta saat ini masih didominasi untuk kebutuhan pakan ternak. Sementara untuk jagung industri belum begitu dominan.
Dari catatan Dinas Pertanian, hasil produksi jagung di DIJ mencapai 300 ribu ton per tahun. Produksi jagung masih didominasi wilayah-wilyah seperti Gunungkidul, Bantul, dan Kulonprogo.
Jagung-jagung yang ditanam petani, sifatnya lebih pada musiman, karena tujuan utamanya adalah menjaga unsur hara tanah. “Jadi ada waktunya kapan tanam padi, jagung, dan tebu,” ujarnya.
Dikatakan, keberadaan jagung untuk pakan ternak, sudah mencukupi untuk wilayah DIJ. Namun untuk pemenuhannya harus mendatangkan dari luar DIJ. “Kebanyakan dari Jawa Timur,” ujarnya. (bhn/ila)