Raut wajah Stefanus Indri Sujatmiko tampak semringah setelah keluar dari Bagsal Kepatihan, Jogja, Senin (5/2). Ditemani sejumlah rekannya beserta Kepala Dinas Perindustiran dan Perdagangan DIJ Tri Saktiyana, pemilik Giowari Putra Craft, yang terletak di Minggir II, Sendangagung, Minggir, Sleman, ini baru bertemu dengan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X.

“Habis menyerahkan lukisan yang terbuat dari bonggol jagung,” kata Indri. Ia mengklaim lukisan dari limbah jagung itu baru pertama kali ada di Indonesia. Selama ini bonggol jagung lebih banyak dibuat kerajinan hiasan lampu dan bingkai foto.

“Setahu saya untuk kerajinan lampu berbahan bonggol, baru ada di Bogor,” jelas Indri. Tak salah, bila mantan penjual sayur ini disebut sebagai seorang inovator. Bahkan 2017 lalu ia menerima penghargaan inovator dari Pemprov DIJ. Sedangkan barang-barang yang dihasilkan, masuk ke dalam 100 produk inovasi dari sebuah situs jual beli online. “Saingan mencapai 24 ribu produk,” ungkapnya.

Apa yang dilakukan Indri, sebenarnya berawal dari keisengan dan coba-coba. Tepatnya di tahun 2015. Ketika itu, dia dan seorang rekannya asal ISI, sedang bereksperimen membuat kerajinan dari sisa benda yang tidak terpakai.

Lantas, tercetuslah janggel jagung. Apalagi, janggel jagung limbah yang mudah dicari di mana saja. “Bonggol jagung itu awalnya benar-benar sampah, tidak dimanfaatkan,” jelasnya.

Awalnya, bonggol jagung itu dibuat hiasan lampu. Ternyata, itu mendapat respons di pasaran. Setiap produk hiasan lampu dijual berkisar Rp 100 ribu. “Kami pernah mendapat pesanan miniatur Candi Borbudur senilai Rp 20 juta,” ungkapnya.

Dibantu lima orang lainnya yang memiliki keahlian di bidangnya, pengolahan bonggol jagung berkembang menjadi produk lain seperti pernak-pernik tas, pigura, lukisan dan miniatur lainnya. Bahkan, kepada Gubernur HB X, dirinya berambisi membuat tugu dari bonggol jagung dengan ukuran yang sebenarnya.

“Saya minta ke Ngarso Dalem kalau ada event pameran internasional untuk diajak dan siap hadirkan Tugu Jogja dengan perbandingan 1 banding satu,” ujarnya.

Selain membuat lukisan Sultan HB X dengan menggunakan bonggol jagung, ia pun telah membuat lukisan Presiden Jokowi dan bahan yang sama. Butuh waktu sekitar seminggu lebih untuk membuat karya itu.

Menurut Indri, Gubernur HB X cukup antusias menerima karyanya. Apalagi, baru pertama raja Keraton Jogja ini dilukis dengan bonggol jagung. “Untuk lukisan Pak Jokowi ingin saya serahkan. Namun nunggu ketemu beliau dulu,” katanya.

Kedatangannya menghadap gubernur juga terkait persoalan peralatan yang sangat minim. Selama ini kerajinan itu dikerjakan secara manual, mulai dari pemotongan, pengamplasan hingga pembentukan.

Akibatnya, produk yang dihasilkan setiap bulannya tidak terlalu banyak. Minimal hanya 20 kerajinan. “Ngarso Dalem sudah menyetujui akan memberikan mesin yang kami butuhkan,” ujarnya.

Mesin pemotong atau bubut mini itu, tidak didapatkan di pasaran. Mesin itu merupakan mesin rekayasa, yang nanti akan dirancang oleh tim dan dinas. “Di toko tidak ada. Makanya kami mikir untuk membuat nanti, rembukan dengan dinas,” katanya.

Dengan mesin itu harapannya produksi yang dihasilkan minimal bisa mencapai 50 produk kerajinan setiap bulan. Apalagi, pembuatan kerajinan ini melibatkan warga di Dusun Minggir dua.

Selain itu, dengan meningkatkan produktivitas diharapkan produk yang dihasilkan bisa diekspor. Karena keterbatasan alat, selama ini hanya melayani penjualan di dalam negeri saja.

Sementara Triyana berjanji akan menyediakan rekayasa alat yang dibutuhkan perajin. “Kami akan kerja sama dengan balai teknologi tepat guna untuk menyediakan peralatan,” katanya. (laz/mg1)