Terdakwa Terbukti Kerap Minta “Jatah” kepada Korban

BANTUL – Publik tentu masih ingat dengan kasus yang menjerat Poniman. Bekas guru bimbingan konseling Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Giriloyo itu harus berhadapan dengan aparat hukum karena menghamili Aa,15, salah seorang anak didiknya.
Pengadilan Negeri (PN) Bantul kemarin (6/2) menjatuhkan vonis 10 tahun penjara kepada Poniman. Tak hanya itu, pria 54 tahun itu juga dikenai denda Rp 100 juta subsidair tiga bulan kurungan.

Putusan majelis hakim yang diketuai Subagyo lebih berat dibanding tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Dalam sidang sebelumnya, JPU yang diwakili Affif Panjiwologo menuntut Poniman delapan tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsidair satu tahun kurungan.
“Terbukti dan meyakinkan melakukan tindak pidana dengan sengaja membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya secara terus-menerus,” ucap Subagyo dalam amar putusannya.

Dalam pertimbangannya majelis hakim menyatakan tidak ada unsur paksaan maupun kekerasan yang dilakukan terdakwa terhadap korban. Kendati demikian, terdakwa dinyatakan bersalah karena selalu membujuk korban untuk berhubungan seksual. Warga Dusun Manding, Sabdodadi, Bantul tersebut bahkan merayu bakal menikahi korban. Walaupun sebatas nikah siri. “Terdakwa juga mengakuinya,” ungkap Subagyo.

Dalam persidangan yang dimulai sekitar pukul 15.00 terungkap sejumlah fakta. Di antaranya, terdakwa berhubungan intim dengan korban sebanyak sepuluh kali. Dalam kurun waktu Desember 2016 hingga Mei 2017. Semuanya dilakukan di salah satu rumah terdakwa yang terletak di Dusun Karangnongko, Sumberagung, Jetis. Rerata atas permintaan terdakwa. “Ma, ayo ML,” ucap Subagyo menyitir isi pesan singkat terdakwa kepada korban lewat ponsel. Seiring berjalannya waktu, tak jarang korban juga meminta terdakwa untuk melayani hasratnya.

Fakta lain, terdakwa rutin memberikan uang Rp 100 ribu kepada korban usai berhubungan badan. Itu sebagai uang tutup mulut agar korban tidak bercerita kepada siapa pun. Namun, korban justru meminta jatah uang bulanan. Nominalnya Rp 150 ribu per bulan. Korban juga kerap meminta dibelikan pulsa.

Usai sidang, JPU Affif Panjiwologo menyebutkan dua dakwaan yang seharusnya dikenakan kepada terdakwa. Dakwaan primer berupa kekerasan dan ancaman terhadap korban. Terdakwa dijerat dengan pasal 81 Ayat 3 Perppu No. 1/2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 23/2002 Perlindungan Anak. Dakwaan lainnya pasal 81 Ayat 2 Perppu No. 1/2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Ini lantaran terdakwa dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. Dalam persidangan, majelis hakim menolak dakwaan primer. Kendati demikian, Affif tak menyoalnya.
“Yang penting tuntutan sudah terbukti,” katanya.

Saat ini JPU menyiapkan materi guna menghadapi kemungkinan banding yang diajukan terdakwa. “Itu hak terdakwa, silakan saja,” lanjutnya.
Yulia Hapsari, kuasa hukum terdakwa pilih irit berkomentar terkait vonis kliennya. Perempuan berjilbab ini bergegas pergi meninggalkan PN Bantul. “Tanya ke pak Poniman saja,” elaknya. Sementara itu, usai sidang Poniman segera digelandang menuju mobil tahanan kejaksaan untuk dikembalikan ke sel tahanan.

Sebagaimana diketahui, kasus asusila ini mencuat awal Juli 2017. Keluarga Aa melaporkan Poniman ke kepolisian. Mereka tidak terima Aa dihamili gurunya sendiri yang notabene sudah paro baya. Walaupun belakangan Poniman bersedia menikahi Aa.
Polisi tak butuh waktu lama untuk mengungkap kasus ini. Pada 7 Juli 2017 Polres Bantul menangkap Poniman setelah mediasi dengan pihak keluarga Aa berakhir buntu. Poniman lantas digelandang ke Mapolsek Imogiri untuk diperiksa. Sehari kemudian guru aparatur sipil negara ini ditetapkan sebagai tersangka.(zam/yog/ong)