KULONPROGO – Pembebasan lahan untuk Bedah Menoreh terus diupayakan Pemkab Kulonprogo. Jalur koneksi bandara dengan Borobudur di Magelang tinggal menyisakan enam kilometer. Yakni ruas Tegalsari, Purwosari Kecamatan Girimulyo dengan Kebonrejo Kecamatan Samigaluh.

“Jalan tembus ke Suroloyo itu juga bagian Bedah Menoreh. Tahun ini kami bebaskan ruas yang putus antara Tengalsari, Purwosari Kecamatan Girimulyo dengan Kebonharjo Kecamaan Samigaluh. Sepanjang enam kilometer dan lebar 14 meter sebagai jalan utama,” kata Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo kemarin (7/2).

Menurut Hasto, Bedah Menoreh harus segera dimulai. Minimal, jalan sudah disiapkan. Proses pembangunannya, pemkab mengajukan dan melakukan presentas ke Pusat.

“Saya sudah presentasi empat kali dan tidak ada yang menolak. Pak Gubernur juga memprioritaskan jalur Bedah Menoreh untuk koneksitas New Yogyakarta International Airport (NYIA) dengan Borobudur,” ujar Hasto.

Kajian Bedah Menoreh sudah disusun. Salah satunya, didukung kekayaan budaya dan tradisi, kalau perlu ada heritage-nya.

Bupati Gianyar Bali didatangkan untuk sharing mengembangkan budaya berwawasan nusantara di Menoreh seperti di Bali.

“Izin untuk sendratari api di Bukit Menoreh juga masih diurus. Sehingga nanti sendratari kecak dengan Api di Bukit Menoreh bias digabungkan,” kata Hasto.

Bedah Menoreh tidak ada artinya jika tidak didukung budaya nusantara. “Yang bisa memperkuat dan menjadi magnet wisatawan datang,” kata Hasto.

Jalur Bedah Menoreh dimulai dari Kecamatan Kokap sampai Kecamatan Girimulyo sejauh 41 kilometer. Diteruskan dari Girimulyo (Tegalsari) sampai Samigaluh 20 kilometer (perbatasan Magelang). Sisanya, enam kilometer antara Tegalsari-Kebonharjo mulai dibuka.

“Sebetulnya tidak putus, hanya yang lebarnya sudah standar baru 40 kilometer. Sisanya masih kurang. Tahun ini mulai disediakan lahannya dan 2019 ditarget selesai. Harapannya 2020 sudah bisa dikerjakan. Dananya bisa dari provinsi atau Pusat,” kata Hasto.

Hasto mengatakan beberapa objek wisata sudah mulai dirintis. Salah satunya Objek Wisata Goa Kiskendo (Girimulyo) dengan suguhan sendratari Sugriwo Subali. Selain itu, Sendangsono (Kalibawang) yang sarat dengan tradisi dan religi. Kekuatan atau potensi itu tidak bisa disaingi.

Lainnya masih didorong. Contohnya Kedung Pedut. Itu apa sajian tradisinya? Masih sekadar menyuguhkan keindahan alam. Ayunan Langit, Kali Biru, Waduk Sermo, Gunung Gajah semua baru menawarkan wisata alam.

Nah di atas Boro (wisata farm Kambing PE) itu bagus. Ada kombinasi ternak dan alam. Bahkan pengelola masih membuat sendratari dengan kostum kambing, itu bagus dan perlu didorong,” kata Hasto.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kulonprogo Niken Probo Laras mengatakan program Bedah Menoreh sebagai prioritas pembangunan di Kulonprogo. Menyentuh pengembangan objek wisata di kawasan yang dilalui, di antaranya Goa Kiskendo, Kebun Teh Tritis, Puncak Suroloyo, Sendangsono, dan Bendo.

“Objek wisata di jalur Bedah Menoreh akan difasilitasi. Mulai dari sumber dana pemerintah maupun sumber dana lain yang sah,” katanya.

Pihaknya sudah koordinasi dengan Pokdarwis di kawasan Bedah Menoreh. Mereka diharapkan tidak hanya menawarkan keindahan panorama alam.

Harus menggarap budaya setempat semaksimal mungkin. Beragam event harus dihelat dan bisa dijual dan menarik wisatawan.

“Mengingat kemampuannya Pemkab terbatas, sangat mungkin dilakukan kerja sama dengan pihak lain. Minimal melakukan branding atau promosi,” kata Niken.

Menurutnya, di jalur Bendah Menoreh sudah muncul dua destinasi wisata baru. Yakni Taman Sebantung dan Pucung Mas.

Pemkab berharap pengelola berkoordinasi dengan Pemkab untuk pengembangannya. “Termasuk jika ada investor yang tertarik menanamkan modal,” ujar Niken. (tom/iwa)