Dari Puncak Sewindu Haul Gus Dur di Auditorium Driyarkara USD

“Semakin banyak perbedaan, semakin jelas titik-titik kesamaan kita” Begitu kalimat yang dipernah disampaikan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam upaya menyadarkan masyarakat untuk menerima perbedaan yang dimiliki bangsa ini. Masih banyak keteladanan Gus Dur yang ditinggalkan untuk kita. Semua itu dikenang kembali dalam acara puncak Sewindu Haul Gus Dur, Senin malam kemarin.

VITA WAHYU HARYANTI, Sleman
SELAMA masa hidup Gus Dur, dirinya menjadi sosok yang berani untuk menebas perbedaan, menyatukan semua suku, ras, dan agama dalam satu nama bangsa Indonesia. Dalam sewindu kepulangannya, kegiatan Sewindu Haul Gus Dus menjadi refleksi masyarakat untuk menziarahi keteladanannya dalam upaya mendamaikan bangsa. Seribu orang lebih dari berbagai kalangan hadir dalam acara yang berlangsung di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (USD) Jogjakarta ini.

“Sebagian besar hidup Gus Dur diabadikan untuk merawat perbedaan yang ada di Indonesia. Dia merawat dan melayani perbedaan kebudayaan yang diabaikan dan minoritas. Ini menjadi cermin diri kita untuk berbenah menyatukan kembali apa yang tercerai berai saat ini,” ujar istri mendiang presiden RI ke empat, Shinta Nuriyah Wahid, malam itu.

Menurut Shinta, manusia bisa meningkatkan harkat dan martabatnya kalau berkebudayaan. Bagi Gus Dur sendiri, kebudayaan menjadi cermin dasar dari kemanusian.

Sementara itu Mahfud MD yang berkesempatan menyampaikan orasi budaya mengatakan, sosok Gus Dur itu seperti sansak, ditonjok, digasak oleh banyak pihak dalam perjuangannya masa itu, tapi dia tetap diam dan kokoh.
“Kita harus sadar Gus Dur selama ini berjuang tidak memikirkan citra diri, dia bicara bener. Dia tidak masalah kalau harus jatuh membela Pancasila dan republik. Biar sejarah mencatat ada orang yang berani melawan ketidakbenaran walaupun dirinya menjadi korban,” papar Menteri Pertahanan di era Presiden Gus Dur ini.

Menurut Mahfud, tema “Menjadi Gus Dur Menjadi Indonesia” dalam kegiatan ini sangat cocok, pasalnya Gus Dur sendiri merupakan prototipe manusia Indonesia. Dirinya mengajarkan jangan sampai agama menjauhkan kemanusiaan. Namun saat ini banyak pihak yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadi dan politik, mengaku untuk membela Tuhan, padahal menurut Gus Dur, Tuhan sendiri tak perlu dibela karena Dia maha segalanya.

Sementara itu Rektor USD Johanes Eka Priyatma mengatakan, visi misi USD sangat erat kaitannya dengan apa yang diperjuangkan Gus Dur, yaitu mewujudkan masyarakat yang semakin bermartabat, adil, dan damai.

“Kami rindu lahirnya Gus Dur muda yang dapat menghidupkan kembali keadilan dan kedamaian di bangsa ini, menghidupi dan mencintai kebenaran, keberagaman, dan kemanusiaan,” tuturnya.

Dalam acara puncak Sewindu Haul Gus Dur ini, juga digelar doa lintas agama serta pembacaan surat rindu untuk Gus Dur yang menceritakan carut marut bangsa Indonesia ini setelah ditinggalkan Gus Dur. Ada sekitar 60 organisasi dan komunitas yang berkontribusi dalam acara ini.
Sebulan penuh rangkaian kegiatan Sewindu Haul Gus Dur ini berlangsung, di antaranya Tahlil Gus Dur keliling pondok pesantren di DIJ, diskusi tentang Gus Dur, Tahlil Kebangsaan di Masjid UIN Sunan Kalijaga, pameran mural di kampung Kranggan, pameran fotografi, dan lain-lain. Suasana malam itu sangat terasa mengharu biru, mengenang kembali sosok yang dirindukan bangsa ini. Berbagai tokoh penting agama juga turut hadir dalam acara tersebut. (laz/ong)